Tahun 2011 Nuh tinggal di Amerika Serikat. Suatu hari Tuhan berbicara kepadanya “dalam waktu setahun ke depan Aku akan menurunkan hujan terus-menerus sehingga banjir akan menutupi seluruh bumi dan semuanya rusak parah, tapi Aku ingin Kau menyelamatkan orang-orang benar dan dua dari masing-masing jenis makhluk hidup. Karena itu Aku perintahkan Kau untuk membangun sebuah bahtera.” Lewat kilatan cahaya petir, Tuhan mengirimkan rancang bangun lengkap dengan spesifikasi bahtera yang harus dibangun Nuh. Takut-takut dan gemetar, Nuh menerima rancangan desain tersebut dan setuju untuk mengerjakannya.
“ingat,” kata Tuhan, “dalam setahun kau harus menyelesaikannya dan menampung semua yang Kuperintahkan tadi ke dalamnya.”
Tepat setahun kemudian, awan badai yang sangat dahsyat menyelubungi bumi dan seluruh samudra bergelora. Tuhan melihat Nuh sedang duduk di halaman depan rumahnya sambil menangis. “Nuh!” teriakNya, “di mana bahteranya?” TanyaNya.
“Tuhan, ampunilah Aku!” teriak Nuh. “aku sudah berusaha semampuku, tapi banyak sekali masalah. Pertama, aku harus mendapatkan izin membangun, dan rancangan yang Kaubuat itu tidak sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Aku harus menyewa arsitek dan menggambar ulang desain tersebut. Kemudian aku harus berdebat dengan pihak OSHA (Occupational Safety and Health Administration) tentang apakah bahtera itu butuh system pemadam kebakaran dan alat-alat pengapungan atau tidak. Belum lagi keberatan dari para tetangga yang menganggap aku telah melanggar aturan tata lingkungan dengan membangun bahtera di halaman rumah sehingga aku harus berselisih dengan komisi tatakota. Selain itu, aku tidak memperoleh cukup kayu karena ada larangan untuk menebang pohon demi melindungi keberadaan burung hantu. Meskipun Akhirnya aku berhasil meyakinkan komisi perhutanan bahwa penebangan kayu ini demi menyelamatkan kelestarian burung hantu, namun badan perlindungan ikan dan margasatwa tidak mengizinkan aku menangkap burung hantu, maka akhirnya tidak ada burung hantu.
Lalu para tukang kayu membentuk sebuah serikat dan mereka mogok kerja sehingga aku harus bernegosiasi dengan serikat buruh nasional. Saat ini ada 16 tukang kayu yang mengerjakan bahtera, namun tetap tidak ada burung hantu. Ketika aku mulai mengumpulkan hewan-hewan lain, aku digugat oleh kelompok-kelompok hewan tersebut karena hanya mengambil dua dari setiap kelompok. Saat gugatan itu dihentikan, aku diberitahu oleh EPA (Environment Protection Authority) bahwa aku tidak bisa menyelesaikan bahtera itu tanpa mengajukan penjelasan tentang dampak lingkungan yang akan timbul dari banjir yang Engkau rencanakan. Mereka tidak terima bahwa mereka tidak punya kekuasaan hukum atas apa yang dilaksanakan oleh pencipta alam semesta. Kemudian korps tentara dari perusahaan teknik menuntut agar aku memperlihatkan peta sederhana tentang wilayah mana saja yang akan tertimpa banjir yang Engkau rencanakan itu. Maka kukirimkan mereka sebuah globe.
Sekarang ini aku sedang berusaha berdamai dengan komisi kesetaraan kesempatan kerja. mereka menganggapku sedang melakukan diskriminasi karena tidak mau menampung orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan! Badan perpajakan internal juga telah menyita semua hartaku karena aku dianggap sedang membangun bahtera dengan maksud melarikan diri dan menghindari kewajiban membayar pajak. Aku baru saja mendapat peringatan dari pemerintah bahwa aku belum membayar beberapa jenis pajak dan juga tidak bisa mendaftarkan bahtera itu sebagai kapal penyedia jasa rekreasi air. Terakhir, ACLU (American Civil Liberties Union) membawa masalah perintah pembangunan bahtera ini ke pengadilan. Menurut mereka, karena perintah pembangunan bahtera dan adanya banjir yang akan menimpa bumi ini berasal dari Tuhan, artinya merupakan peristiwa keagamaan dan karenanya tidak sesuai konstitusi. Aku benar-benar tidak yakin bisa menyelesaikan bahtera itu dalam 5 atau bahkan 6 tahun yang akan datang.” Ratap Nuh.
Langit mulai kembali cerah, matahari mulai bersinar lagi, dan samudra mulai tenang. Pelangi melingkar mengitari langit. Nuh menengadah penuh harap. “jadi, Engkau tidak berniat menghancurkan bumi lagi, Tuhan?” tanyanya.
“tidak,” jawab Tuhan dengan sedih. “pemerintah telah melakukannya.”