Tiga ratus dua puluh ribu orang di Australia menyandang demensia. Kondisi ini diderita oleh satu di antara 3 orang warga Australia usia di atas 85.

Wartawati ABC, Madeleine Morris berbicara mengenai dementia dengan Dr Cameron Camp dari Pusat Riset Terapan Demensia Amerika (Credit: ABC) 

Dimensia merupakan salah satu diagnosa yang paling ditakuti. Orang bisa kehilangan ingatan alias pikun, dan bersamaan itu kehilangan kemandirian, kemampuan
pokok
untuk hidup, serta kemampuan untuk berkomunikasi dengan keluarga dan teman.

Apakah memang harus demikian?

Organisasi Alzheimers Australia sedang mempromosikan suatu cara pendekatan baru terhadap dementia, menggunakan adaptasi dari metoda Montessori, yang lebih
dikenal dengan metoda pembelajaran di sekolah-sekolah dasar.

Ada bukti bahwa cara baru itu membantu penyandang Alzheimer mendapatkan kembali ketrampilan yang hilang, belajar ketrampilan baru dan memperbaiki hubungan.

Perintis pendekatan ini, Dr Cameron Camp dari Pusat Riset Terapan di Amerika, sedang berada di Australia selama tiga bulan untuk mengajarkan metoda ini.

Dr Camp menjelaskan kepada Madeleine Morris dari ABC, bahwa ada empat model perawatan dementia.

Yang pertama adalah seperti penjara : orang bersangkutan dipandang berbahaya bagi dirinya ataupun masyarakat, jadi ia diambil dari masyarakat dan dijaga
agar tidak lolos.

Yang kedua adalah seperti di rumahsakit : ia sakit, jadi harus diberi obat.

Model perawatan yang ketiga adalah seperti di hotel : kita akan melayani anda, anda adalah tamu. Orang itu menginap di hotel tapi tidak tinggal di sana.

Model yang keempat adalah : orang bersangkutan hidup dalam suatu komunitas, seperti tinggal di rumah.

“Itulah penekanan pendekatan Montessori — bagaimana kita menciptakan komunitas, menciptakan rumah, bagaimana kita menciptakan suatu peranan sosial yang
berarti bagi seseorang dan memungkinkan mereka masih berkontribusi bagi masyarakat lebih luas,” kata Dr Camp.

Dr Camp memberi contoh suatu prakarsa yang dilakukan salah seorang sejawatnya di Oregon, Amerika, yang telah menjalani pelatihan di tempatnya. Sejawatnya
itu menyelenggarakan klub membuat beer bagi penyandang dementia di panti werda.

“Diperlukan 10 sampai 12 orang untuk membuat bir. Setiap orang punya peran berbeda, ada yang membersihkan bahannya, ada yang mengukurnya, ada yang memasukkannya
dalam botol, memasang mereknya. Dan sewaktu mereka kemudian ikut lomba bir setempat, mereka menang medali emas,” katanya.

Kata Dr Camp, para penyandang dementia bisa belajar prosedur baru kalau diajarkan dengan cara yang tepat. Jadi prosedur baru apa yang kita ingin mereka
belajar?”Kalau kita mulai berpikir dengan cara baru itu, mulai memikirkan kemungkinannya, memikirkan kemampuan apa saja, itu akan membawa kita pada cara
berpikir yang sangat berbeda dan hal itu melawan konsep ‘tidak mungkin diterapi’.

Menurut Dr Camp, seringkali bilamana seseorang didiagnosa menderita dementia, mulai timbul stereotyping danstigma.

“Ada keyakinan di dunia ini bahwa kalau mendapat diagnosa tersebut orang tidak akan pernah bisa belajar sesuatu yang baru, bahwa keadaannya hanya akan menurun,
bahwa orang akan pikun dan tidak ada yang bisa kita lakukan,” katanya.

Kata Dr Camp, pandangan seperti itulah yang perlu kita lawan. 

“Salah satu tantangan terbesar terhadap perawatan dementia yang baik adalah adanya pandangan bahwa kita tak berdaya menghadapi dementia. Itu tidak benar.
Kita punya treatment yang bisa sangat efektif didasarkan pada bukti, bukan dengan mengandalkan obat,” tandasnya.

Dr Cameron Camp mengatakan telah melihat adanya perbaikan pada penyandang Alzheimer dengan treatment menggunakan pendekatan baru ini. Ia mendapati penurunan
drastis penggunaan obat-obatan psikotropik, dan berkurangnya penggunaan alat-alat bantu tidur dan hipnotis. Dr Camp menjelaskan, kalau orang punya hal
yang dikerjakan di saat ia bangun, ia akan tidur di malam harinya. Ini juga meringankan bagi petugas rumah jompo, kalau penghuninya punya kesibukan.

“Disini kita melihat dementia sebagai suatu disabilitas dan bukannya sebagai penyakit,” kata Dr Cameron Camp dari Pusat Riset Terapan Demensia Amerika berbicara
kepada wartawati ABC, Madeleine Morris.

sumber: