Logika bisa membawamu dari A ke B. Tetapi IMAJINASI bisa membawamu kemanapun”. Albert Eisntein adalah orang dibalik pepatah menarik itu. Masih ingat,
ada pepatah lain dari Albert Einstein soal imajinasi yang lainnya, “Imajinasi lebih berkuasa daripada pengetahuan”.

Tapi, bebagai survei selalu mengatakan bahwa dengan bertambahnya usia kita, apa yang terjadi? Orang makin menurun imajinasinya! Well, saya setuju dan tidak
setuju.

Setuju bahwa imajinasi orang dewasa semakin banyak batasannya. Namun juga tidak setuju karena kita sebenarnya masih tetap kreatif, hanya saja kita terlalu
sibuk dengan berbagai pikiran serta terlalu sibuk mengikuti pola yang sudah ada, akibatnya kita jadi tidak banyak berpikir.

Saya teringat satu kisah. Seorang Ibu pulang membawa suatu botol alat pembersih model baru. Berkali-kali Ibu itu berusaha membaca aturan membuka botol
obat pembersih itu dan tidak berhasil. Dengan berkerut-kerut si Ibu itu berusaha memahami apa yang tertulis, tidak berhasil juga. Akhirnya, si Ibu itu
menyerah dan datanglah pembantunya, lantas dengan segera dan mudahnya, pembantu itu bisa membuka botol tersebut. Si Ibu itu bertanya, “Kok kamu bisa buka?”.
Dan dengan singkat si pembantu itupun menjawab, “Iya, Ibu orang sekolahan, Ibu membaca. Saya nggak sekolah, jadi saya hanya bisa mengerahkan segala kecerdikan
saya untuk bisa membuka botol ini!”.

Kenapa Makin Tidak Imajinatif
Menurut saya, faktor utama dan pertama dibalik tidak kretifnya manusia adalah soal emosi. Ingatlah dibalik sikap dan perilaku manusia, biasanya ada dorongan
emosi. Lalu, apakah emosi yang ada dibalik imajinatif serta tidaknya kita? Ada dua kemungkinan. Entah karena kita merasa nyaman dan sudah enak dengan apa
yang kita nikmati sekarang. Atau, memang kita takut dengan kerepotan maupun kesulitan kalau seandainya kita berubah. Kadangkala, kita mendengar orang
yang mengatakan, “Udah deh, yang sekarang un udah nyaman dan enak kok”. Sementara yang lain berkata, “Kalau berubah, bikin repot dan menambah kesulitan
saja”. Tetapi bayangkanlah kondisi klasik ini. Bayangkan kalau tidak ada seorang Thomas Alva Edison yang mengimajinasikan adanya bola lampu listrik di
rumah. Mungkin hingga sekarang, kita masih akan menggunakan lilin. Bayangkanlah kalau tidak ada dua tukang sepeda, Wight Bersaudara yang berani mencoba
terbang pertama kali karena mengimajinasikan orang yang bisa terbang di langit bebas, saat ini kemanapun kita mungkin hanya lewat jalan darat dan laut.
Betapa bersyukurnya kita, karena ada orang-orang nekat yang berani brimajinasi!

Ongkos Tidak Imajinatifnya Kita
Ongkos terbesar dari ketidakberanian kita untuk berimajinasi dan berpikir lebih kretaif, keluar dar tatanan yang ada saat ini adalah, kita akan terus-menerus
berada pada situasi seperti sekarang. Dan mungkin saja, Anda pikir, “Kan nggak apa-apa dengan kondisi sekarang toh. Apa salahnya?” Memang, tidak ada salahnya,
tetapi, masalahnya kondisi serta apa yang Anda alami sekarang ini mungkin tidak memadai lagi untuk 5 ataupun 10 tahun mendatang. Misalkan saja, dari sisi
penghasilan dan taraf hidup Anda sekarang. Memang sih, kelihatannya dengan kondisi Anda saat ini, mungkin saja apa yang Anda peroleh sudah cukup. Tetapi,
bayangkanlah 5 atau 10 tahun mendatang bahwa orang disekitar Anda bertambah jumlahnya (anak bertambah, barangkali) ataupun Anda mulai sakit-sakitan. Jadi
di sinilah persoalannya, ketika Anda tidak berubah, kondisi akan terus-menerus berubah. Jadi jika Anda tidak mengimajinasikan adanya perubahan, yang terjadi
adalah kehidupan kita menjadi semakin repot.

Bagaimana Membangun Imajinasi Kita
Pertama, ciptakan motif dan keinginan. Yakinkan diri kita bahwa apa yang kita nikmati saat ini mungkin tidak akan memadai lagi di masa yang akan datang.
Karena itu, beranilah mengimajinasikan sesuatu yang jauh lebih baik. Kedua, bayangkanlah bahwa sebenarnya ada cara yang lebih baik, pola yang lebih menyenangkan,
hasil yang jauh lebih spektakuler kalau kita mau berusaha dan mencoba cara yang baru. Ingatlah, “Anda akan terus mendapatkan apa yang Anda dapatkan sekarang
ini, kalau Anda tidak mencoba cara yang baru”.

selaku admin, saya cuma ingin bertanya kepada para pembaca: to what extent do you agree or disagree with this article?