KETIKA bangun menjelang Subuh, hal yang pertama sekali dilakukannya adalah menanak nasi, mempersiapkan lauk-pauk, lalu menjerang air. Sambil menunggu air
mendidih, ia memberesi kamar tidurnya, menyapu rumah, dan mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawanya ke kebun kakao. Ia lalu menyeduh teh, hanya
segelas, sebab tiada lagi siapa di rumah tua itu selain dirinya.

Kebun Kakao

Sambil menyeruput tehnya sedikit demi sedikit, ia biasanya membaca, sambil menunggu matahari bangkit dari peraduannya. Entah mengapa, membaca baginya lebih
terasa sebagai sebuah peruntungan ketimbang ingin mengetahui sesuatu. Peruntungan yang membuat gairah hidupnya selalu bangkit. Peruntungan yang membuat
ia selalu berada pada perbatasan antara sunyi dan gembira. Itulah sebabnya, dalam usia yang sudah kepala lima, ia tetap mempertahankan kebiasaan membaca
sebagai pengisi waktu luang. Lalu, setelah mentari terbit, dia segera bergegas, pergi ke kebun kakao. Seperti seorang pelajar, ia juga selalu membawa buku ke kebun, yang ditaruhnya di dalam bakul bersama goni dan termos tempat air dan makanan. Setibanya di kebun, segera ia akan berjalan menyusuri kebun kakao
itu baris per baris, mengawasi buah demi buah, dan memetik jika ada buah yang menguning. Buah-buah yang matang itu kemudian dipecah, diambil bijinya yang
berlendir, dimasukkan ke dalam goni, lalu diangkut ke rumah untuk dijemur sebelum dijual. Begitulah perempuan tua itu selalu bahagia melakukan pekerjaannya
dari hari ke hari, seperti tak pernah didera lelah. Kalaupun lelah, ia akan istirahat, minum air secukupnya, lalu membaca, seperti mencari kekuatan baru
dari buku yang dibacanya.

Kebun kakao itu sudah berumur puluhan tahun, tidak terlalu luas, hanya sekitar 4000 meter persegi. Ia menanam kakao itu bersama suaminya ketika putri semata
wayang mereka baru lahir. Dulu, sewaktu mereka menanam kakao itu, banyak cibiran datang dari tetangga bahwa tindakan mereka kurang bijak, karena kelak
kakao tidak akan laku lagi. Pada saat itu, orang-orang memang sedang demam menanam sawit. Tapi, orang-orang kemudian takjub manakala kebun kakao itu mampu
membuat hidup mereka menjadi lebih makmur. Bahkan, pada saat putri mereka masih duduk di sekolah dasar, suaminya sudah mampu membeli sepeda motor. Tapi
malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, suaminya meninggal karena kecelakaan. Ia diseruduk truk pada saat berkendara, sepulang dari kota belanja
pestisida.

Mendadak segala sesuatu menjadi berubah sejak itu. Kemampuannya menyikapi hidup, kiat-kiatnya mengasuh anak, dan kecakapannya bersosialisasi dengan penduduk,
sungguh membuat orang-orang merasa takjub dan terkesan. Pada saat suaminya meninggal, orang-orang sangat kuatir apakah ia mampu mengurus rumahtangganya.
Sebab ia bukan contoh ibu yang baik. Ia sering menjadi bahan gunjingan karena tidak cakap memasak dan mencuci. Ia juga seringkali dipandang sebagai orang
yang tak pandai bergaul, seolah-olah berbaur dengan masyarakat desa adalah sesuatu yang hina. Karena itu, ketika ada orang yang berkata bahwa suaminya
mungkin diguna-gunai orang sehingga buta pandangannya ketika berkendara, ia merasa ada benarnya, tapi tidak menganggapnya sebagai kebenaran. Ia hanya berkata,
“Aku percaya hidup dan mati hanya ada di tangan Tuhan.”

Sebenarnya, ia tidak seburuk yang disangkakan orang. Hanya saja, ia belum terbiasa dengan suasana dan pola hidup desa. Ia memang berasal dari keluarga kaya.
Ayahnya punya toko penyalur bahan bangunan, juga beberapa kilang penggilingan padi yang sekaligus berfungsi sebagai distributor beras ke kota-kota kecamatan.
Di rumah, ia selalu dilayani dua orang pembantu yang selalu siap memanjakannya. Sebenarnya, orangtuanya sudah sejak awal menentang hubungannya dengan Attar
Tua, almarhum suaminya itu. Tapi ia bersikeras bahwa ia tidak salah memilih lelaki itu, sebab ia adalah lelaki pemberani, cerdas, punya kemauan, dan masadepannya
memancar gemilang dari setiap lakunya. Mereka saat itu sama-sama sedang kuliah di fakultas hukum, aktif berorganisasi, dan rutin menulis di berbagai media
untuk menelanjangi kezaliman penguasa. Ia bertemu dengan Attar Tua sebagai sebuah peruntungan yang mengesankan. Mereka memiliki kesamaan yang membuat mereka
selalu bersama. Membaca buku, tidak hanya buku-buku hukum, tetapi juga buku-buku lain seperti ekonomi, filsafat bahkan sastra. Mereka juga senang sekali
berbicara tentang dunia hewan dan tumbuhan. Bunga, misalnya, selalu mereka maknai sebagai tanda betapa hidup memiliki banyak warna. Pada saat berbicara
tentang hewan dan tetumbuhan itulah Attar Tua selalu bercerita tentang kampungnya yang sunyi, ayah-ibunya yang habis usianya diisap ladang karena setiap
hari harus banting tulang, demi menyekolahkannya. Dan itu tidak boleh disia-siakan. Itulah sebabnya ia berusaha menjadi mahasiswa aktif, dan merasa sempurna
setelah bertemu dirinya, yang juga seorang perempuan pemberani, meski agak manja. Pada saat mahasiswa rame-rame unjuk rasa melengserkan Soekarno, mereka
terlibat aktif sebagai penggerak di kotanya. Tapi, setelah Soekarno lengser, dan Soeharto mengambil alih kekuasaan, mereka melarikan diri ke kampung Attar
Tua dan segera menikah. Pelarian itu mereka pilih karena banyak rekan-rekan mereka yang lenyap dalam ‘pembersihan’ ala Soeharto. Mereka memang tidak terlibat
dalam suatu ideologi tertentu, tapi demi keselamatan, mereka memilih hidup di desa Attar Tua. Ayahnya lalu memberi sedikit uang untuk membeli tanah di
desa terisolir itu, dan itulah modal yang kemudian mereka pergunakan untuk menanam kebun kakao.

Burung-burung

Rumah besar itu terdiri dari tiga bagian. Bagian depan adalah ruang praktek, bagian tengah merupakan rumah keluarga, dan bagian belakang terdiri dari gudang
dan kebun kecil yang penuh dengan sayur-sayuran. Pemiliknya memang sengaja membuat desain bangunan rumah seperti itu, agar tanah berukuran 10 X 50 meter
yang memanjang ke arah belakang itu penuh terisi. Setiap sore, orang-orang selalu ramai di ruang depan, datang untuk berobat. Dr. Hanna Bertha, istri pemilik
rumah itu, akan melayani pasien-pasiennya dengan sabar, hangat dan penuh senyum. Sementara suaminya, di salah satu kamar kerja di ruangan tengah, sibuk
dengan bunyi tik-tak komputer. Lelaki itu adalah seorang penulis. Dulu, ia bekerja sebagai wartawan, tapi berhenti karena sastra terlalu kuat mencengkeram
hati dan pikirannya.

Di ruang belakang, puluhan sangkar burung menggantung di plafon teras gudang. Seperti suara indah dari kehidupan yang lain, kicau merdu burung-burung itu
selalu menemani tuannya beraktivitas. Burung-burung dalam sangkar itu adalah sebait ingatan tentang cinta yang dipersembahkan bagi seorang perempuan tua.
Semua berawal ketika suatu kali ia pergi ke pasar burung untuk membeli pakan bagi burung yang terdampar lemah di kebun belakang rumahnya. Burung itu mungkin
disambar petir, kita harus merawatnya, kata suaminya. Dan ketika berada di pasar burung, ia tertegun mendengar kicau-kicau merdu yang menguar dari beragam
burung. Tiba-tiba ia teringat pada sesuatu: ketika ayahnya meninggal, malam sebelumnya ia mendengar burung-burung berkicau di sekitar rumah mereka. Mengingat
hal itu, tiba-tiba kepalanya pusing, dan ia jatuh pingsan. Dan inilah yang dilihatnya:

Seorang gadis cilik hidup di rumah sederhana, di sebuah kampung sunyi. Ibunya, seorang diri, berjuang mengayomi dan memberi nafkah baginya. Wanita itu tak
pernah marah, selalu ramah. Meski begitu, selalu ia merasa ada yang tidak sempurna dalam diri ibunya. Ibunya masih sering salah ketika mengerjakan banyak
hal. Ketika menanak nasi, sering nasi yang ditanaknya kurang matang, atau terlalu lembek. Jika ia menyapu rumah, sering ada bagian-bagian yang tertinggal
sehingga debu-debu tetap saja melekat di lantai. Dan jika ia mencuci, noda dan kotoran sering tertinggal di piring dan pakaian. Ia ingat, ketika ayahnya
masih hidup, hal seperti itu tidak pernah terjadi. Ayahnya selalu menyertai ibu ketika mengerjakan sesuatu, sehingga tampak selalu sempurna. Tapi, itu
tak berlangsung lama. Tiba-tiba saja ibunya berubah menjadi wanita yang gesit, telaten, bersih, rapi dan sempurna mengerjakan segala hal. Dan ia tidak
menyangka bahwa ibunya juga akan sanggup bekerja di kebun karena semasa hidup ayah, ibu tak pernah pergi ke kebun. Setiap hari wanita itu bekerja banting
tulang, seperti menemukan kekuatan baru dalam setiap pekerjaannya. Dan ia makin bangga pada ibu, karena di tengah-tengah kesibukan yang padat, ibu masih
sempat membaca buku-buku. Dan kebiasaan itu kemudian turun kepadanya. Pernah ia membaca novel tentang seorang istri yang menikah lagi setelah ditinggal
mati suaminya pada saat anak pertama mereka baru lahir. Lalu, ia bertanya, “Ibu, mengapa Ibu tidak menikah lagi?” Dan ibunya menjawab: “Kelak, ketika kamu
sudah punya anak, kamu akan tahu jawabnya.”

Bertahun-tahun kemudian, ia menikah. Tapi ia tidak bahagia. Ia punya suami yang tidak pandai menyiasati hidup, tak gesit mencari uang. Oleh sebab itu, dia
harus bekerja matian-matian untuk menghidupi rumah tangga. Pagi hari, ia bekerja di sebuah rumah sakit. Dan sore hari, ia membuka praktek di rumahnya.
Ia tidak pernah marah pada suaminya, sebab ia paham potensi seseorang. Ia paham bahwa zaman sudah berubah, paham bahwa konsep patriarkal sudah tak berlaku
lagi dalam kehidupan rumah tangga. Ia ingin seperti ibunya, berhasil membesarkan, mendidik dan menghantarkan dirinya ke kehidupan yang layak, meski ibu tak punya suami. Tapi ini bukan berarti bahwa ia mencuaikan suaminya. Ia tetap mencintai lelaki itu, menghormatinya, menganggapnya sebagai tuan yang harus
dijunjung. Ia paham, apa yang dilakukan suaminya sedikit banyak telah pula membangun kehormatan di tengah-tengah keluarga. Anak-anaknya juga bangga punya
ayah seperti suaminya, terlebih-lebih ketika teman-temannya berkata, “Ayah kamu penulis yang sering masuk koran itu, ya? Hebat dong!” Tapi, sesekali ia
merasa lelah juga manakala suaminya hanya asyik dengan buku-buku, sampai-sampai untuk memperbaiki toilet yang sumbat, mengoreksi lampu yang rusak, harus
dilakukannya sendiri. Seperti sore itu, ia pergi ke pasar burung setelah terlebih dahulu membersihkan kebun. Apakah ia jatuh pingsan karena terlalu lelah?
Apakah itu terjadi karena kekaguman mengingat ibu, lalu lemas dan kecewa menerima kenyataan bahwa suaminya hanya duduk di depan komputer? Tapi, ia mencintai
lelaki itu, seperti lelaki itu juga mencintainya. Ia paham, suaminya kurang tahu cara mencintai, itulah persoalannya.

Ketika siuman, ia berada di rumah sakit. Suami dan anak-anaknya berada di sampingnya dengan mata sembab. Sejak peristiwa itu, ia mulai suka mengoleksi burung, dan ditaruh di bagian belakang rumahnya.

Pertentangan

Pernah suatu hari ia pulang menjenguk ibu, tanpa ditemani suami dan anak-anaknya. “Hanya kamu seorang?” ibunya bertanya. Ia berkata bahwa ia rindu pada
ibu, pada kampung, pada sesuatu yang pernah mereka jalani bersama sebelum suami dan anak-anaknya hadir. “Aku ingin menikmati hal itu bersama ibu,” katanya.
Mereka kemudian berjalan-jalan ke kebun kakao sambil saling bercerita. Ia berkisah dengan antusias tentang anak-anaknya yang lincah dan gemuk-gemuk., juga
tentang suaminya yang tetap seperti dulu.

“Suamimu itu memang baik, tapi tingkahnya seringkali membuat orang-orang tersiksa. Masih suka diam dia?” tanya ibu.

“Masih, Bu. Sekarang malah makin pendiam, susah diajak ngobrol. Tapi ia tidak pernah menyakitiku. Ia tetap baik. Ibu sendiri bagaimana, apa Ibu masih betah
hidup di sini?”

“Pasti betah. Kehidupan Ibu memang di sini. Ada apa?”

“Bagaimana kalau Ibu tinggal saja bersama kami di kota ?”

Mendengar itu, ibu tertegun, lalu berkata: “Itu tidak mungkin. Kamu bisa saja membiayai Ibu tanpa kurang suatu apapun, mengurus Ibu, dan memanjakan Ibu
dengan segala apa yang kamu miliki. Tapi apa kamu yakin Ibu akan betah di kota? Dengar ya, Ibu juga berasal dari kota. Jika Ibu mau, sudah sejak ayahmu
meninggal Ibu pergi ke kota, bersama kakek dan nenekmu yang hingga akhir hayatnya masih tetap jadi orang kota. Tidak, Nak, di desa inilah kehidupan ibu.
Desa ini telah menyelamatkan ibu dari kejaran penguasa, meski desa ini jugalah yang merenggut nyawa ayahmu. Di sinilah tersimpan sejarahmu, dan desa inilah
tempatmu pulang jika kamu rindu pada sesuatu yang tidak bisa kamu dapatkan di kota.”

“Tapi Ibu, aku ingin punya seseorang tempat bicara, menantu Ibu tidak bisa diajak bicara. Aku sepertinya salah pilih, ya, Ibu?”

“Eh, jangan bicara begitu. Dulu, sebelum kamu menikah, kamu kan sudah tahu wataknya. Jadi, kamu harus terima itu. Jangan lupa, ia penerus ayahmu yang juga
suka nulis.”

“Aku mohon, sudilah Ibu tinggal bersamaku di kota. Aku mungkin tidak sekuat Ibu, bisa hidup tanpa suami. ”

“Tidak bisa. Ibu hanya bisa berkata bahwa kamu harus lebih paham apa itu makna cinta. Jika kamu memahaminya dengan benar, kamu pasti bisa menangani segalanya
dengan baik. Berjuanglah demi anak-anakmu, bukan untuk suamimu.”

Percakapan mereka berhenti sampai di situ, mereka pulang dari kebun kakao dengan saling diam. Baginya, penolakan ibu terasa seperti sebuah pertentangan
yang berdebam-debam di dadanya. Satu-satunya hal yang mungkin masih bisa dilakukannya adalah bersabar, belajar, berjuang seperti kata ibu, meski suaminya
tak bisa seperti harapannya. Ia sebenarnya tak menuntut apa-apa dari suaminya itu kecuali sikap yang hangat. Tidak lebih.

Kenyataan

Sejarah terus berjalan, bergerak, meski tak selalu baik rupa. Adakah sesuatu yang sempurna di dunia ini? Seperti cuaca yang terkadang pecah, rontok dan
lumat ditimpa waktu, hidup juga punya ledakan-ledakan tersendiri dalam perjalanannya. Tak ada kedamaian sebenar dalam hidup ini. Tak ada kehancuran sebenar
dalam perjalanan ini. Dan perempuan tua itu tetap menjalani hari-hari di kampungnya yang sunyi, berdamai dengan sejarah yang mengendap di kebun kakao.
Dan putrinya, Dr Hanna Bertha, bersetia pada kehidupan yang tak sepenuhnya salah tata. Dan harapan demi harapan selalu menguar dari kicau burung yang melengking-lengking
dari belakang rumahnya. Dan itu membuatnya tabah bukan karena ia perempuan, tapi hanya karena cinta.

Pandapotan MT Siallagan

Pekanbaru, April 2005