*percakapan telepon*
Ricardo: “sayang, kita perlu bicara.”
Erica: “Ricardo, apa maksudmu?”
Ricardo: “sesuatu telah terjadi.”
Erica: “apa… Apa yang telah terjadi? Apakah buruk?”
Ricardo: “sayang, aku tak ingin melukaimu…”
Erica: (sambil berpikir) “oh Tuhan, aku harap ia jangan sampai meminta berpisah denganku, aku sangat mencintainya.”
Ricardo: “sayang, kau masih di situ?”
Erica: “ya… aku masih di sini. Apakah hal penting itu?”
Ricardo: “aku masih ragu apakah aku mesti mengatakannya?”
Erica: “tentu saja, kau sudah memulainya. Cepat katakan!”
Ricardo: “aku akan meninggalkan…”
Erica: “sayang, apa yang sedang kaubicarakan ini? Aku tak ingin kau meninggalkanku, aku sangat mencintaimu!”
Ricardo: “bukan begitu, maksudku aku akan pindah ke tempat yang sangat jauh.”
Erica: “mengapa? Bukankah semua keluargamu tinggal di sini?”
Ricardo: “ayahku berencana mengirimku ke sebuah sekolah asrama yang sangat jauh.”
Erica: “aku tak bisa percaya ini!”

Tiba-tiba ayah Erica mengangkat telepon lain yang parallel dengan telepon yang digunakan Erica lalu mendamprat: “Erica! Ingatkah kau Apa yang sudah kukatakan tentang berbicara dengan para lelaki!!!! … tutup telepon itu sekarang juga!” geramnya sambil membanting gagang telepon yang dipegangnya.

Ricardo: “wow, ayahmu sepertinya sudah benar-benar gila.”
Erica: “kau tahu sendirilah bagaimana dia, tapi mengenai yang kauceritakan tadi, aku sama sekali tak ingin kau pergi.”
Ricardo: “maukah kau ikut bersamaku?”
Erica: “sayang, kau tahu aku. Aku akan melakukan apapun untukmu Tapi ini…aku tidak bisa… tak sanggup kubayangkan apa yang akan terjadi seandainya aku melakukannya. Ayahku akan membunuhku.”
Ricardo: (sedih) “ok, aku mengerti. aku Cuma mengira…”
Erica: (sambil berpikir) “aku tak percaya semua ini!”
Ricardo: “aku ingin memberimu sesuatu malam ini karena aku akan berangkat dengan penerbangan pertama dini hari nanti, jadi aku ingin bertemu denganmu sekarang juga.”
Erica: “baiklah, aku akan keluar diam-diam dan kita bertemu di taman.”
Ricardo: “ok, aku akan tiba sekitar 20 menit lagi.”
Demikianlah, mereka bertemu di taman dan saling berpelukan. Ricardo memberikan sebuah catatan kecil pada Erica. “ini dia, ini untukmu! Aku harus pergi sekarang.”
Tak ayal lagi air mata Erica mulai bercucuran.
Ricardo: “sayang, jangan menangis! Kau tahu aku sangat mencintaimu. Tapi aku harus pergi…”
Erica: “ok,” katanya sambil beranjak.
Merekapun kembali ke rumah masing-masing dan Erica mulai membaca catatan yang diberikan Ricardo. Bunyinya sebagai berikut:

“Erica, kau baru saja tahu bahwa aku akan segera pergi. Karena itu kupikir akan lebih baik jika kutuliskan sebuah surat yang menjelaskan sejauh mana perasaanku padamu. Yang sebenarnya adalah aku tak pernah sungguh-sungguh mencintaimu, aku sangat membencimu, kau adalah b***ku, ingat itu! Aku tak pernah peduli padamu, tak ingin bicara denganmu, atau berada di dekatmu. Kau tentu tahu betapa aku membencimu. Sekarang juga aku akan pergi dan kupikir kau harus tahu bahwa aku membencimu b***. Kau tak pernah becus melakukan sesuatu dan kau tak pernah ada untukku. Rasanya aku tak pernah membenci seseorang seperti aku membencimu. Dan selama sisa hidupku aku tak ingin lagi melihatmu, aku tak akan merindukan saat-saat aku mencium dan memelukmu. aku berjanji tak akan merindukanmu, dan kau harus ingat bahwa kau tak pernah memiliki cintaku. B*** kau boleh menyimpan surat ini karena mungkin merupakan hal terakhir dariku. B*** aku sangat membencimu. Aku tak akan lagi bicara denganmu, perempuan hina…! ‘Selamat tinggal’. –Ricardo.”

Erica mulai menangis. Ia melemparkan kertas itu ke tempat sampah dan tenggelam dalam tangisnya selama berjam-jam. Siang pun berlalu dan berganti malam. Erica sangat sedih, putus asa dan kesepian. Seorang temannya meneleponnya dan menanyakan keadaannya.
Teman: “bagaimana perasaanmu?”
Erica: “aku tak bisa percaya semua ini. Kupikir dia mencintaiku …”
Teman: “o… tentang itu. Ricardo mengirimiku pesan agar aku memberitahumu untuk memeriksa di dalam saku baju… atau jaket… ya, sekitar itulah.”
Erica: “ok.”
Ia lalu merogoh jaket yang dipakainya malam itu dan menemukan secarik kertas yang bertuliskan: “sayang, kuharap kau menemukan kertas ini sebelum membaca suratku. Aku khawatir ayahmu akan membaca surat itu maka kuubah beberapa kata di sana. Benci=cinta, tak pernah=selalu, b***=sayang, tak akan=akan. Kuharap kau dapat memahaminya karena aku sungguh-sungguh mencintaimu dengan segenap hatiku dan betapa sulitnya berpisah denganmu. Itulah kenapa aku ingin kau lari saja bersamaku. –Ricardo.
Erica: “oh Tuhan, surat itu … Ah, Ricardo benar-benar mencintaiku. Dia pasti telah menyelipkan catatan ini ke dalam sakuku saat ia memelukku. Aku benar-benar bodoh!!”
Teman: “oh ok, tapi aku harus pergi dulu, telepon saja lagi nanti.”
Erica: (bahagia) “ok, aku akan di rumah saja menunggu sayangku meneleponku.”
Kemudian Erica menyalakan televisi dan saat itu ada Breaking News: “sebuah pesawat mengalami kecelakaan. Empat puluh tujuh pemuda tewas dan tim SAR masih mencari kalau-kalau masih ada yang hidup. Ini adalah tragedy yang tak akan terlupakan. pesawat ini sedang menuju ke sebuah sekolah asrama putra dan merupakan penerbangan pertama hari ini…” demikian laporan tersebut. Erica langsung mematikan televisi dan tiga hari kemudian ia bunuh diri karena menganggap Ricardo telah meninggal dan baginya tak ada lagi alas an untuk tetap hidup.
Sehari setelah kejadian itu, Ricardo menelepon, tapi tak seorangpun yang menjawab. Akhirnya ia hanya meninggalkan pesan: “halo, ini Ricardo. Kukira kau tidak di rumah, maka kuputuskan meneleponmu untuk memberitahumu bahwa aku masih hidup. Malam itu aku ketinggalan pesawat karena aku mesti menemuimu terlebih dahulu untuk terakhir kali. Jadi, kuharap kau tidak cemas, aku baik-baik saja…”

end

Disadur dari:
http://www.tumblr.com/tagged/sad%20stories

*bagi yang ingin berbagi kreativitas dan imajinasi ttg kelanjutan kisah ini, silakan di kolom komentar.*
Terima kasih…