Sebelum menyajikan sebuah kisah, terlebih dahulu saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para pembaca blog ini karena sehubungan dengan keikutsertaan saya dalam sebuah pelatihan Bahasa Inggris selama 9 bulan, maka blog ini sempat terlantar sedemikian lamanya. Semoga dimaklumi dan sebagai postingan pertama saya setelah aktif kembali, saya ingin menghaturkan sebuah kisah sederhana namun sangat bermakna. setiap orang dapat mengalaminya bahkan mengkondisikannya, namun tidak setiap orang mampu menyadari maknanya.

Hari itu kami dikunjungi keluarga dari luar kota yang membuat kami sangat sibuk. Oleh karenanya, aku menawarkan diri untuk melakukan sesuatu yang biasanya dilakukan oleh istriku yaitu belanja kebutuhan sehari-hari di super market. Istriku setuju dan segera aku pun menuju ke super market. Dengan tergesa-gesa aku berkeliling mengumpulkan barang-barang yang kuperlukan dan setelah itu aku langsung menuju salah satu kasir yang terlihat agak sepi antrian. Saat tiba di sana, ternyata aku hanya terhalang oleh seorang remaja berusia sekitar 16 tahun. Aku pikir aku tidak terlalu terburu-buru, karenanya aku sabar menanti sampai anak lelaki itu menyadari bahwa ada orang yang mengantri di belakangnya. Lalu tiba-tiba ia melambaikan tangannya sambil berseru lantang “mama, aku ada di sini!”
Jelas sudah ia agaknya terganggu mentalnya dan mulai ketakutan ketika melihatku begitu dekat di belakangnya, siap merangsek maju. Matanya terbelalak dan nampak sangat terkejut ketika kutanya “hai sobat, siapa namamu?”
“Namaku Denny dan aku sedang berbelanja dengan mamaku.” jawabnya dengan bangga.
“waw… nama yang bagus! Sebenarnya aku ingin bernama Denny tapi sayangnya namaku Steve.” kataku.

“Steve, seperti pada kata Stevarino?” ia bertanya.
“ya,” jawabku. “Oiya, bolehkah kutahu berapa usiamu?”
“Berapakah usiaku sekarang Ma?” tanyanya kepada ibunya sambil mengarahkan pandangannya ke barisan antrian di sebelah.
“kau sudah 15 tahun, anak yang baik… dan sekarang minggirlah, biarkan dia lewat.” jawab ibunya.

Aku menghaturkan terima kasih dan untuk beberapa lama aku masih mengajak Denny bercakap-cakap tentang musim panas, sepeda, dan sekolah. Mata cokelatnya berbinar-binar penuh kegembiraan mungkin karena ia merasa diperhatikan oleh seseorang. Kemudian ia menuju ke tempat yang menjual permainan anak-anak. Ibunya lalu berujar “terima kasih telah mengajak anak saya mengobrol. Biasanya tidak ada yang bersedia, meski hanya untuk memandangnya saja.”

Kukatakan bahwa betapa senangnya bercakap-cakap dengan anak itu. Namun tiba-tiba aku mengucapkan beberapa kalimat yang aku sendiri tidak tahu dari mana idenya, namun pasti ilham dari Tuhan. Kukatakan padanya bahwa terdapat banyak sekali Mawar merah, kuning, dan pink di taman Tuhan, tetapi “mawar biru” adalah sesuatu yang amat sangat jarang dan sudah seharusnya kita menghargai keindahan dan keunikannya. “percayalah, Denny adalah sekuntum Mawar biru dan jika ada orang yang berhenti mencium semerbak mawar tersebut dengan hatinya dan juga tidak lagi menyentuhnya dengan kebaikan, berarti ia telah kehilangan anugerah Tuhan. Sejenak ia terdiam dan dengan setitik air mata yang jatuh ia bertanya “siapakah Anda?”

Tanpa berpikir aku menjawab “mungkin aku hanyalah tumbuhan liar,namun aku bahagia hidup dalam taman Tuhan.”
Ia menggenggam erat tanganku dan berkata “Tuhan memberkatimu!” Dan mataku pun berkaca-kaca.

saat kau menjumpai sekuntum Mawar bbiru, berhentilah sejenak, nikmati keindahannya, ambillah waktu untuk tersenyum dan menyapanya. Bisa jadi oleh anugerah Tuhan, Anda adalah Ayah atau Ibu seperti dalam cerita di atas; bisa saja ini pun terjadi pada anak, cucu, atau keponakan Anda.

Live simply. Love generously. Care deeply. Speak kindly.
“People will forget what you said, People will forget what you did, but people will never forget how you made them feel!”

Disadur dari http://www.daily-inspirational.com