Karena pekerjaan saya sehari-hari menuntut untuk senantiasa terhubung dengan internet, maka sangat sering saya mengeluhkan koneksi internet di kantor saya yang lemotnya bukan buatan. Saya hanya bisa mengumpat dalam hati atasan-atasan saya yang saya anggap sangat tidak peduli dengan kondisi ini atau malah membiarkan ini terjadi, padahal kan kalau koneksi internet di sini bagus, itu demi kemajuan kantor juga…? Seringkali saya berpikir, kenapa di negara-negara lain koneksi internetnya bisa luar biasa kencang sementara di Indonesia tidak? Apakah ini ada hubungannya dengan korupsi juga? Kan selama ini sepertinya segala sesuatu yang jelek di negeri ini selalu dianggap faktor pemicunya adalah sifat koruptif bangsa ini, termasuk saya? Ada bangunan yang roboh, katanya gara-gara biaya konstruksinya sudah dikorupsi oleh pihak-pihak tertentu; biaya kesehatan dan pendidikan mahal, katanya karena subsidinya sudah dipangkas di mana-mana; kebodohan dan kemiskinan terus merajalela, akibat para pejabat tidak memperhatikan rakyatnya karena sibuk menimbun harta dari hasil korupsinya; dan masih banyak relita lainnya. Apakah soal lemotnya koneksi internet juga akibat korupsi? Entahlah… Yang jelas, dari artikel yang saya kutip berikut ini, saya mendapatkan jawaban yang masuk akal — akal saya lho entah dengan akal orang lain — tentang hal ini.

Data dari lembaga riset Akamai
menyebutkan kecepatan koneksi internet rata-rata di Indonesia sekitar 772 kbps sedangkan Malaysia 1.7 Mbps, Thailand 3 Mbps, Vietnam 1.5 Mbps, Kamboja
1.2 Mbps dan Laos 956 Kbps. (Internet ASEAN 2012)

Kenapa internet di Indonesia lambat (dan mahal)?

Dikutip dari
gadgetgaul.com,
Inilah kesimpulan yang jadi penyebab lambat dan mahalnya koneksi internet di Indonesia, yakni:
1. Kondisi geografis yang sangat luas dan medan yang beraneka ragam
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terdiri lebih dari 13 ribu pulau yang terbentang dalam luas lebih dari 1.9 juta km2. Ditambah dengan
medan yang berbukit dan berlembah tentu menjadi tantangan tersendiri dalam membangun infrastruktur internet baik kabel maupun nirkabel.
2. Tingginya angka pengguna internet
Pada Desember 2011, pengguna internet Indonesia tercatat
mencapai 55 juta jiwa atau 22.4% dari total populasi orang Indonesia. Dengan angka ini, Indonesia mencatatkan diri sebagai negara dengan jumlah pengguna
internet no. 8 terbanyak di dunia dan terbanyak ke-4 di Asia setelah Tiongkok, India dan Jepang. Semakin banyak jumlah pengguna internet yang harus dilayani
tentu membuat rata-rata kecepatan internet semakin turun.
3. Perang promosi operator penyedia koneksi internet
Perang promosi yang terjadi pada operator penyedia koneksi internet akhir-akhir ini memang membuat harga koneksi internet terasa lebih murah bagi konsumen.
namun dengan itu semakin turun pula kualitas koneksi internetnya baik dari segi kecepatan maupun kestabilan koneksi yang pada akhirnya tidak jadi lebih
murah dari sebelumnya.
4. Regulasi pemerintah yang kurang efisien
Hal ini lebih banyak dirasakan oleh rekan-rekan operator penyedia layanan internet seluler seperti kewajiban membayar Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP) ke
pemerintah yang dirasa oleh operator terlalu tinggi sehingga membuat hitung-hitungan bisnis balik modal (ROI) dari investasi suatu teknologi misal 3G jadi
lebih lambat. Jika investasi operator tersebut belum balik modal (ROI) tentu mereka akan menunda investasi teknologi berikutnya misal LTE / 4G.
Saat ini Indonesia memiliki 9 operator seluler dan itu terlalu banyak. Di berbagai negara maju, jumlah operator seluler dibatasi pemerintahnya tidak pernah
lebih dari 5 perusahaan. Setiap operator akan mendapatkan spektrum jaringan yang kecil karena harus berbagi dengan operator lain. Hal ini menyebabkan rendahnya
kualitas jaringan seluler Indonesia.

Sumber:
gadgetgaul.com