Anda sekalian, percayalah, penduduk Bangladesh adalah bangsa terbahagia di dunia! di sisi lain, Amerika Serikat ternyata sangat miris karena hanya berada di peringkat 46 berdasarkan hasil Survey Kkebahagiaan di Ddunia. Bahkan Peringkatnya jauh di belakang India yang berada di tempat ke-5 dan Negara-negara lain termasuk Ghana, Latvia, Croatia dan Estonia.
Penelitian yang dipimpin oleh para professor bidang ekonomi dari London School ini, menghubungkan antara daya beli seseorang dengan kualitas hidup yang diperolehnya. Hasilnya menyimpulkan bahwa uang memang mampu membeli segalanya kecuali kebahagiaan. Studi ini menunjukkan , rakyat Bangladesh, sebagai salah satu Negara termiskin di dunia, memiliki kehidupan yang jauh lebih bahagia dengan penghasilan mereka yang minim, ketimbang orang Inggris misalnya (peringkat 32 dalam daftar) yang notabene memiliki rekening gendut di berbagai bank. Kenyataanya, masyarakat di sebagian besar Negara kaya, termasuk Austria, Netherlands, Switzerland, Canada, Jepang, dan lain-lain, hidupnya jauh lebih tidak bahagia dibanding rekan-rekan mereka yang notabene lebih tidak beruntung di Negara-negara seperti the Dominican Republic dan Armenia. Namun yang lebih malang adalah orang-orang Rusia dan mereka yang tinggal di beberapa Negara bekas Uni Soviet. Survei Kebahagiaan Dunia mengindikasikan bahwa Mereka tidak kaya dan juga tidak bahagia – hahaha kasihan bgt ya. Slovenia, Lithuania, Slovakia, Russia, Ukraina, Belarus, Bulgaria dan Moldova terus membuntuti Amerika Serikat dalam daftar peringkat tersebut dan berusaha melampauinya. Studi ini pun menunjukkan bahwa meski orang-orang Inggris Raya memiliki kesempatan dua kali lebih besar untuk menghambur-hamburkan uang dibandingkan 40 tahun lalu, tetap saja kualitas hidup mereka tidak juga meningkat. Survey serupa yang lebih dulu diadakan menunjukkan bahwa banyak penduduk Britania Raya berpikir uang dapat memberikan kebahagiaan. Studi terkini memperlihatkan bahwa pemahaman seperti itu masih ada di Negara-negara miskin karena sedikit saja peningkatan penghasilan dapat berpengaruh besar pada gaya hidup. Namun, lebih dari itu, adanya suatu tingkat pengasilan tertentu dapat menghancurkan sebuah hubungan. Menurut penelitian, tingkat kebahagiaan orang-orang di Negara kaya kini jauh lebih bergantung pada kedekatan hubungan personal, kesehatan yang baik, dan kepuasan kerja. “Pada umumnya penduduk Britania dewasa ini kurang bahagia dibanding 10 tahun lalu. Dua per tiga di antaranya lebih senang memedulikan perbaikan lingkungan daripada pertumbuhan ekonomi dan daya beli pribadi.” Papar Robert Worcester, professor tamu dalam pemerintahan pada LSE yang juga mengepalai studi tersebut. Para peneliti menyimpulkan bahwa meski penduduk Britania relative lebih kaya dibanding penduduk Negara lain, namun masih banyak penderitaan akibat kemiskinan emosional yang disebabkan oleh konsumerisme dan rusaknya kehidupan keluarga. “Kita sedang terpikat oleh sesosok raksasa ekonomi dan kebutuhan pribadi kita yang tak terpenuhi.” Ungkap Nic Marks, seorang pakar ilmu social, peneliti dari Surrey University, yang juga ikut serta dalam membuat laporan itu.

Note:
artikel di atas disadur dari tetapi di situ pun author dan source-nya tidak diketahui.