Sebagai sesama tunanetra, saya sangat terkesima ketika mengetahui apa profesi beliau. Saya tidak habis piker bagaimana bisa dengan keterbatasan visualnya, beliau mampu eksis menggeluti profesi itu selama bertahun-tahun, bahkan sudah sempat melakukan show di beberapa daerah di luar Jakarta. Itu berarti kemampuannya sudah bisa disejajarkan dengan DJ-DJ yang non-penyandang disabilitas, bukan? Pertama kali saya menyaksikan penampilan beliau, bukan sebagai DJ, melainkan sebagai penyanyi. Waktu itu bulan Agustus tahun 1994, beliau bersama 2 orang temannya tampil mengisi acara penutupan kegiatan Pertemuan Pramuka Luar Biasa yang berlangsung di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur. Enam bulan kemudian, tepatnya Februari 1995, kembali saya sempat menyaksikan mereka bernyanyi di sebuah ajang pencarian bakat di salah satu stasiun televisi swasta bertajuk ”Aneka Bakat dan Gaya”. Setelah itu, saya tidak pernah mendengar kabarnya lagi, hingga bertahun-tahun kemudian, tepatnya 2007 saya bertemu dengan salah seorang teman beliau. Ia menceritakan bahwa Yoyoi—demikian sapaan akrabnya kepada DJ Carol – kini sudah terjun di dunia hiburan sebagai seorang disc jockey, dan beliau merupakan disc jockey tunanetra pertama di Indonesia. Saat itu saya spontan terkesiap. yang muncul seketika di pikiran saya adalah pertanyaan: bagaimana mungkin, kok bisa, dan setumpuk rasa heran dan kagum yang tidak terungkapkan. Oleh sebab itu, ketika saya mendapat tugas dari kantor untuk menampilkan profil tokoh-tokoh yang dianggap inspiratif bagi kaum penyandang disabilitas, khususnya tunanetra, saya tiba-tiba teringat pada beliau dan segera mencari nomor contact personnya. Selain itu, saya juga mencari artikel-artikel tentang beliau di internet. Di bawah ini adalah sepenggal kisah perjalanan hidup DJ Carol yang saya temukan di berbagai media, yang kemudian saya kolaborasikan dengan hasil wawancara saya langsung dengan beliau via telepon.

DJ Carol, itulah nama panggungku. Jika diumpamakan titik-titik huruf Braille, perlu jutaan titik yang saling menyambung untuk menceritakan kisah hidupku.
Titik itu bermula di 16 Juni 1979, saat aku, Carolina Lingkan Yunita Mamuaya, lahir sebagai bungsu pasangan Albert Andres Mamuaya (Alm)-Imzarilda. Kulit
putih, rambut pirang kecokelatan, dan gendut, membuatku menjadi anak kecil yang menggemaskan. Kalau tak percaya, lihat saja fotoku waktu aku berusia 3
tahun yang mirip anak bule.

Sayang, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Masuk usia 4 tahun, mataku bermasalah. Retinaku bercahaya setiap kali melihat lampu, persis mata kucing.
Dokter mata hanya memberi obat tetes. Mama yang tidak puas, membawaku ke dokter lain di RSCM. Hasilnya luar biasa mengejutkan, aku menderita tumor mata
ganas!

Penyakit mematikan ini ternyata sudah mengakar di syaraf mata kiriku. Sebelum tumor merambat ke bagian tubuh lain, terutama otakku, dokter menyarankan harus
segera diangkat. Saat itu, pengobatan yang memadai dan terbaik hanya terdapat di luar negeri. Mama memilih mengoperasiku di Belanda, karena banyak saudara
yang bermukim di sana.

Di negeri kincir angin itu, aku punya sejuta cerita haru. Ketika memeriksakan mataku ke dokter di sana, kabar buruk kembali menghampiri.
Ternyata tumor sudah menyebar ke mata kananku dan kedua mataku harus dioperasi. Tapi Mama minta agar mata kananku saja yang diangkat. Alasannya, “Supaya
kamu bisa melihat dulu seperti apa Indonesia, seperti apa Jakarta.” Aku yang masih kecil, menurut saja. Apa pun pilihan Mama, aku yakin itu yang terbaik.

Sebelum operasi dilakukan, tanpa henti Mama dan Papa menjelaskan apa yang akan terjadi nanti. “Carol, nanti kamu enggak akan bisa melihat seperti orang
lain.” Ketika kutanya apa sebabnya, Mama dan Papa menjelaskan penyakitku. Tanpa kusadari, perlahan-lahan aku belajar jadi dewasa. Aku jadi paham, akan
tumbuh berbeda dengan anak sebaya lainnya.

Meski operasi berjalan sukses, itu bukan akhir dari segala pengobatan yang harus kujalani. Masih ada terapi lain yang sungguh menyiksa, yaitu kemoterapi
yang betul-betul kubenci. Aku jadi mudah lelah, rambut rontok sampai kelimis, tak menyisakan sedikit pun rambut. Berat badanku menyusut drastis. Malah,
sampai sekarang sulit sekali ingin menaikkan bobot. Aku juga jadi sering marah-marah tak karuan, bahkan mengamuk. Belum lagi, aku jadi sering berhalusinasi
seperti melihat setan di kolong tempat tidur. Benar-benar menyiksa!

Setahun di Belanda, banyak sekali kejadian yang kualami dan masih membekas di ingatan hingga kini. Di sana, tanpa lelah keluargaku mengenalkan warna-warna
di sekitarku. “Ini merah,” atau “Lihat langit di atas sana? Itu warnanya biru campur putih.” Begitu mereka menjelaskan terus-menerus, sampai melekat di
otakku.

Dengan mata terpejam, aku masih bisa melihat salju yang turun di Belanda. Mereka seperti kapas kecil yang berduyun-duyun turun menyentuh tanah. Pun ketika
musim semi tiba, bunga-bunga bermekaran dengan warna jelita. Mama juga memberitahu nama setiap bunga. Dulu, aku juga sempat terkaget-kaget ketika bercermin.
Wah, ternyata mataku indah! Warnanya cokelat dan bulu mataku lentik.

Sesudah operasi dan masa penyembuhan berakhir, kami kembali ke rumahku di Jalan Surabaya, Menteng. Mama menepati janjinya, mengenalkan Jakarta. Salah satunya,
ke kebun binatang dan “diperkenalkan” satu persatu penghuninya. Sungguh mengasyikan menghabiskan waktu di tempat itu. Makanya, sampai sekarang, aku suka
sekali mendengar acara mengenai kehidupan alam liar di televisi. Setiap kali acaranya bercerita mengenai binatang, pikiranku melayang ke kebun binatang.
Aku masih ingat, lho, seperti apa bentuk mereka!

Anehnya, sekalipun tahu sebentar lagi mata kiriku akan diangkat, aku tenang-tenang saja. Kendati begitu, saat hari operasi tiba, aku panik dan ketakutan
setengah mati ketika suster mulai membiusku. Aku teringat pengalamanku dioperasi di Belanda dulu, dibius total.
Syukurlah, operasi sukses dilakukan meski itu berarti aku buta total. Waktu itu, umurku 5 tahun. Saat siuman, Mama sudah di sampingku. “Yaah, sekarang
aku enggak bisa melihat lagi, deh!” kataku pada Mama. Polos sekali, ya? Setelah aku besar, Mama baru bercerita, ternyata kalimatku itu membuat seluruh
keluarga menangis secara diam-diam karena tak ingin aku sedih.

Pasca operasi, tak ada lagi yang bisa kulihat. Jika tuna netra lain masih bisa melihat sekelebat bayangan atau warna hitam, aku tidak begitu. Kosong, itu
yang kurasakan.

Namun karena sudah biasa sejak kecil, aku tak pernah merasa berbeda dengan teman lain. Aku tidak pernah dilarang bermain dan dengan gembira mengikuti semua
permainan.
Kalau ada anak yang mengejekku, barulah jantungku berdebar kencang. Aku seperti tersadar, “Iya, ya, aku beda dengan mereka.” Tapi setelah itu, ya, main
lagi. Habis, pada dasarnya aku termasuk orang yang santai. Aku tak pernah sakit hati diejek teman. Tak pernah pula pada Tuhan. Untuk apa? Ini memang sudah
takdirku. Aku sudah ikhlas, kok.
Yang jelas, karena penyakitku, aku telat masuk sekolah. Baru umur 9 tahun, aku masuk SD. Itu pun, efek kemoterapi masih setia “menemani” hari-hariku. Untunglah
aku sudah bersekolah di SLBA Pembina Jakarta sehingga tempat ini menjadi pelipur lara bagiku. Meski muridnya sangat sedikit (pernah hanya tiga orang),
tak jadi masalah.

Kami tak berbeda dengan anak-anak yang bersekolah di sekolah umum. Sama-sama ceria dan aktif mengikuti ekstrakulikuler. Aku juga lumayan nakal. Kalau pelajaran
matematika, aku suka kompakan bolos dengan teman-teman, lalu jalan-jalan ke supermarket terkenal kala itu, Golden Trully. Walaupun begitu, prestasiku tak
kedodoran. Aku selalu juara kelas. Ya, walaupun juara satu dari tiga murid, tetap prestasi, kan? Hahaha.

Pada masa ini, aku sempat kesal pada Mama karena sama sekali tidak pernah dimarahi, sekalipun nakal atau dapat nilai jelek. Padahal, kedua kakakku, Sally
Marcelinda dan Christian, diomeli habis-habisan. Ketika kutanyakan alasannya ke mama, ia menjawab, hidupku sudah terlalu berat bebannya dan ia ak ingin
menambahnya lagi. Duh, terenyuh aku mendengarnya.

Lulus SMP, karena ingin kuliah, aku masuk ke sekolah umum, SMA Santo Paulus. Aku tahu risiko memasuki sekolah umum yang penghuninya lebih beragam. Oleh
sebab itu, kusiapkan mentalku sekuat-kuatnya. Tegang sekali ketika kakiku menginjak gerbang sekolah dan tambah gemetar waktu memasuki kelas. Memang, sih,
ada sebagian orang yang sepertinya takut dengan kondisiku dan menjauhiku. Tapi banyak juga yang mengajakku berkenalan.

Di sini, aku belajar beradaptasi dengan lingkungan yang ramai. Aku berusaha bersikap baik pada semua orang karena aku membutuhkan bantuan mereka. Misalnya,
membacakan tulisan guru di papan tulis. Kalau nakalku “kambuh”, aku suka bekerja sama dengan teman-teman. Mereka bilang ke guru, aku sakit dan harus diantar
pulang. Padahal, kami cuma ingin main.

Menjelang kelas 3 SMA, Jakarta sedang “panas” yang merembet ke kerusuhan Mei 1998. Letak sekolahku yang berdekatan dengan Universitas Trisakti dan mempunyai
banyak siswa keturunan China, membuat Mama memindahkan sekolahku. Kota Bandung menjadi pilihan, kebetulan, di sana ada sekolah umum yang menerima siswa
tuna netra, namanya SMAK BPPK. Di Bandung, aku kos bersama teman-temanku yang lain ditemani pembantu.

Di SMA ini, aku semakin aktif mengikuti ekskul musik sembari mengasah kemampuan vokalku. Bahkan, aku sudah mulai menyanyi di kafe. Ya, akhirnya aku bisa
mencari uang. Kala itu, karena sudah bisa menghidupi diri dari menyanyi, aku memutuskan tidak kuliah. Apalagi setelah Papa meninggal, aku tak mau jadi
beban Mama dan saudaraku. Inilah saatnya bagiku untuk mandiri.

Jadilah aku masuk Yayasan Siswa Terpadu, tempat yang membuka bab baru dalam cerita hidupku. Aku berkenalan dengan anak pemilik yayasan, Mbak Maya Kusbiono.
Perempuan baik hati ini memiliki sekolah disc jockie (DJ) dan menawarkan menjadi DJ. Karena sama sekali tidak pernah terlintas di pikiranku, kata-kata
yang keluar dari mulutku hanyalah, “Apaan, tuh, DJ?”

mbak Maya lalu menjelaskan segala sesuatunya, termasuk visi dan misinya untuk sebisa mungkin mencetak seorang DJ professional dari kalangan penyandang disabilitas, khususnya tunanetra. Waktu itu aku masih belum tertarik karena jujur, aku bukan penggemar music dengan gendre seperti itu. Tetapi beliau terus berusaha meyakinkan bahwasanya dengan terjunnya aku di bidang ini nantinya kaum tunanetra pasti akan semakin dikenal dan diterima oleh lebih banyak lagi lapisan masyarakat, termasuk para clubers dan penikmat ‘dugem’. Dengan demikian akan tercipta image bahwa tunanetra pun bias ‘gaul’! aku berpikir, “iya juga ya…” akhirnya aku menyetujuinya dengan tambahan pertimbangan, mungkin kehadiranku di hadapan para pengunjung diskotik itu bias member motivasi bagi mereka sebab orang-orang yang dating ke tempat seperti itu biasanya adalah mereka yang sedang terpuruk dalam kesepian, penderitaan, bahkan sampai tahap depresi. Dengan demikian hadirnya aku sebagai disc jockey memandu mereka semoga saja mampu membuka pikiran mereka bahwa kalau aku saja yang seorang tunanetra bias eksis, mengapa mereka yang memiliki indera sempurna harus frustrasi? Dengan pertimbangan seperti itu, aku mengiyakan ajakan Mbak Maya.
Bulan Maret 2006 aku pun mulai mengikuti pendidikan dan pelatihan di sekolah itu hingga bulan Juni. Memang jangka waktu pendidikannya hanya 3 bulan bagi setiap siswa. Di sana aku diperkenalkan dengan alat-alat seperti piringan hitam dan CDJ. Setelah itu aku diajarkan untuk memixing lagu. Kendala-kendala pasti ada karena aku adalah siswa tunanetra pertama yang mereka didik. Namun semuanya bias kusiasati. Misalnya ketika harus mengawasi durasi lagu yang tertera di layar, tentu aku tak bias, maka aku menyiasatinya dengan menghafalkan lagu-lagu itu sehingga aku dapat mengetahui ketika lagu itu akan berakhir dan tentu aku harus mempersiapkan lagu berikutnya; demikian pula ketika akan memixing beberapa lagu dari beberapa CD yang berbeda, tentu makan waktu lama jika harus memeriksa CD tersebut satu persatu, maka kusiasati dengan member tanda pada setiap CD sehingga aku tidak perlu khawatir bahwa CD-CD itu akan saling tertukar. Demikianlah aku menjalani pendidikanku di sana selama 3 bulan. Semenjak dalam masa pendidikan itu pun, aku sudah sering mendapat tawaran untuk nge-DJ di beberapa event, tetapi karena aku merasa masih baru, maka tawaran-tawaran itu kutolak. Baru pada September tahun itu juga, akhirnya aku perform untuk pertama kalinya di sebuah diskotik bernama Liquid di bilangan Cilandak Town Square. Aku mau tak mau harus perform di sana karena ada sebuah stasiun televise swasta yang ingin meliput penampilanku. Ketertarikan mereka itu disebabkan sebuah iklan di internet tentang sekolah DJ milik Mbak Maya dan dalam iklan itu ada kalimat: “yang tunanetra aja bias belajar DJ …” karena itu akulah yang menjadi objek utama pemiputan mereka.
Sejak saat itu tawaran-tawaran semakin deras mengalir, termasuk ke beberapa daerah di luar Jakarta. Dari pengalamanku, sambutan masyarakat di luar Jakarta jauh lebih heboh, bahkan aku pernah secara tidak sengaja mendengar di radio bahwa pihak panitia yang mengundangku memasang iklan yang mempromosikan kehadiranku untuk nge-DJ di salah satu diskotik di kota itu.
Sejak aku serius menekuni bidang ini, sejauh ini tanggapan yang kuperoleh selalu positif. Satu-dua kritikan pasti ada, tapi sampai saat ini aku masih bias menerima dan menjelaskannya. Misalnya ketika dalam sebuah acara ulang tahun sebuah perkumpulan anak-anak autis yang diselenggarakan di sebuah sekolah internasional, aku dikritik oleh segelintir orang asing yang hadir pada aat itu karena aku tak mempersiapkan lagu yang mereka inginkan. Kemudian aku menjelaskan kepada mereka bahwa setiap disc jockey punya alirannya masing-masing, dan kebetulan yang kukuasai adalah aliran musik yang dalam dunia disc jockey disebut aliran ‘music anak selatan’, pula karena kegiatan ini berlangsung bukan di diskotik, maka lagu-lagu yang tersedia pun terbatas. Yang bias dimainkan hanya lagu-lagu yang sudah kuprogram sebelumnya dari rumah. Sampai sejauh ini aku masih bias enjoy dengan profesiku ini meskipun yang namanya dunia malam seringkali mengecewakan. Banyak janji-janji yang tidak ditepati, persaingan-persaingan yang sangat ketat antar-DJ yang cenderung mengarah ke persaingan tak sehat, dan lain sebagainya. Tapi aku tidak mau terseret arus yang tidak sehat itu. Kalau jasaku mau dipakai, silakan, tapi kalaupun tidak, aku nyantai aja.
Selain sibuk di dunia hiburan, aku tidak mengabaikan keluargaku. Aku dan suamiku, Arya Laksana yang juga seorang tunanetra (low vision) sebisa mungkin mengatur skejul kami agar bias bersama-sama atau saling bergantian mengasuh anak kami, Jonathan Arshavin Damirel yang saat ini masih berusia 2 tahun. Bila memang kami berdua punya kegiatan masing-masing yang membuat kami harus meninggalkan rumah di waktu yang bersamaan, maka Jonathan kami titipkan ke mamaku ataupun mertuaku. Di rumah, kami hanya hidup bertiga, tanpa pembantu rumah tangga. Meski memang ada kendala yang kami hadapi, terutama karena tidak ada orang awas yang membantu mengawasi anak kami, namun puji Tuhan kami masih mampu mengatasinya. Saat ini kami tinggal di sebuah rumah sederhana yang terletak di kawasan Pondok Cabe, Tangrang Selatan. Rumah ini kami bangun dengan biaya kami pribadi dan puji Tuhan, akhirnya dapat selesai dibangun pada September 2010 yang lalu.
***
Demikianlah sepenggal kisah hidup dari seorang DJ Carol yang sangat inspiratif. Di akhir wawancara, beliau sempat mengutarakan sebuah harapan yaitu, semoga suatu saat nanti ada lembaga yang khusus menangani para penyandang disabilitas, khususnya tunanetra yang ingin mengasah bakatnya di bidang hiburan, khususnya disc jockey. Beliau bersedia membagi ilmunya jika memang dibutuhkan oleh lembaga tersebut.