Menyambut Hardiknas hari ini, saya ingin membagikan sebuah kisah nyata dari seorang kepala sekolah yang sangat rendah hati dan punya visi jauh ke depan. Ia sangat menghargai murid-muridnya, bahkan tidak segan-segan menaruh sikap hormat pada mereka. Langsung disimak aja ya…

Di sebuah sekolah di Jerman abad silam. Setiap hari bila berpapasan dengan para murid, siapapun murid tersebut, sang kepala sekolah akan mengangkat topinya
dan memberikan rasa hormat yang dalam.

Melihat kenyataan dan kebiasaan sang kepala sekolah ini, ada orang lalu datang menghampirinya dan bertanya; ¡§Anda adalah seorang kepala sekolah. Mengapa
anda harus menundukkan kepala dan memberikan rasa hormat kepada murid-murid anda?¡¨

Sang kepala sekolah dengan tenang menjawab; ¡§Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka di kemudian hari. Namun siapa tahu, mungkin satu dari antara
mereka kelak merupakan alat khusus yang dipilih dan dipakai dalam tangan Tuhan.¡¨

Beberapa tahun berlalu. Dan memang benar, satu di antara para murid tersebut muncul menjadi alat yang dipakai oleh Tuhan untuk menggalakkan pembaharuan
dalam gereja. Ia adalah Martin Luther. Walaupun ia kadang dipandang sebagai pembawa perpecahan dalam gereja, namun ia telah muncul sebagai kritik terhadap
kehidupan gereja jamannya yang bobrok dan membangkitkan suatu introspeksi diri dalam tubuh gereja sendiri.

——————–

Pandanglah setiap orang sekitar kita dengan rasa hormat yang tinggi, terutama mereka yang diremehkan dalam masyarakat. Karena respect yang anda berikan
pada diri mereka yang hina tersebut mungkin akan menumbuhkan sesuatu yang indah dalam diri mereka.