Akhirnya saya punya energi positif lagi untuk memposting di comfort zone ini setelah beberapa waktu saya mengalami apa yang disebut sebagai titik dan situasi yang paling kritis. 11 Maret yang lalu salah seorang pahlawan dan super star yang paling saya banggakan dalam hidup saya telah pergi meninggalkan saya dan keluarga kami. Sebagaimana pernah saya kisahkan dalam tulisan saya beberapa waktu lalu yaitu postingan yang berjudul Lirik “I Love You Daddy by Ricardo & Friends”,
bahwasanya ayah saya pada saat itu sedang terbaring lemah di rumah sakit akibat stroke, maka 11 Maret 2011 yang lalu, akhirnya tanpa diduga beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Sama sekali tak terduga karena sebenarnya beliau sudah keluar dari rumah sakit sejak 21 Januari dan telah mengalami kemajuan yang sangat pesat terkait dengan fungsi beberapa sistem syarafnya yang sebelumnya sangat terganggu. Mengenai kisah selengkapnya, akan saya posting lain kali.
Saat ini saya ingin kita menyimak sebuah kisah yang unik dan menurut saya sangat memberi pencerahan dan inspirasi. Kisah ini tentang hubungan batin yang begitu erat antara seseorang majikan dan anjingnya. Mungkin teman-teman sekalian sudah terlalu sering membaca kisah semacam ini, tetapi yang membuat kisah ini unik adalah …

Adalah seorang buta bernama Graham Waspe yang segala kegiatannnya, khususnya
di luar rumah di Stowmarket, Suffolk, Inggris, sangat tergantung pada Edward, anjing kesayangannya yang sudah menjadi penuntunnya selama 6 tahun terakhir.

“Edward adalah anjing yang sangat terlatih. Dia adalah mata saya dan dia bisa membaca pikiran saya,” Graham merasa sangat beruntung memiliki Edward. “Serasa
memiliki alat GPS dengan kontrol suara otomatis; tinggal bilang ‘pasar’, Edward akan membawamu ke pasar.”

Namun perjalanan pasangan ini harus terhenti setelah tim dokter hewan memvonis Edward terkena katarak ganas dan mereka harus ‘mengambil’ kedua bola matanya.

Akhir cerita, baik Graham maupun mantan penuntunnya, Edward hanya bisa terkurung di dalam rumah. Sementara, Sandra sang istri tidak bisa diajak keluar setiap saat.

Namun ini tidak berlangsung lama, Penuntun baru telah datang.

Graham baru saja dikirimi seekor anjing baru bernama Opa, lebih muda dan lebih gesit tentunya. “Opal dan saya sudah semakin dekat. Dia sama pintarnya dengan
Edward. Saya malah tidak menemukan perbedaan di antara mereka berdua.”

Atas jasa-jasanya terhadap keluarga ini, Edward diijinkan untuk tetap tinggal bersama dan mengikuti kegiatan rutin yang dahulu pernah dilakukan bersama
Graham. Hanya saja, tugas sebagai penuntun sudah diambil alih oleh Opal, anjing yang menuntun tuannya yang buta sekaligus anjingnya yang buta.

Sumber :
dhanish.blogspot.com