Cerpen berikut ini cukup menarik menurut saya. Imajinasinya bagus, sudut pandangnya unik, tetapi sayang agak ngambang endingnya. Sah-sah saja menggunakan open plot, tetapi bagi pembaca pada umumnya, pasti mengharapkan klimaks dan ending yang jelas.However, saya bisa jamin banyak yang terinspirasi setelah membaca cerpen ini. Thanks to penulisnya yang telah bersedia membaginya ke milis. hahaha…

Ssstt!
Diam! Anakku sedang tidur. Awas, kalau kalian mendekat! Aku bisa saja mencelakakan kalian. Diam!
Ssstt!
Diam! Jangan banyak bicara. Jangan banyak komentar. Jangan mengasihaniku. Kalian tidak mengenal siapa aku. Kalian tidak mengerti perasaanku. Kalian hanya menggangguku saja. Diam!
Setiap kali aku terbangun dari tidur, aku selalu menangis. Aku selalu ketakutan. Aku selalu merasa bersalah. Aku mengingat semuanya.
Setiap hari, aku bersama teman-teman lainnya, selalu berada di gedung putih ini. Kami dikurung di sini. Kami terisolasi dari dunia luar.
Dan hampir setiap hari, aku didatangi oleh para Pasukan Gila Berseragam Putih untuk menyuntikkan senjata kimianya ke nadiku, hingga kesadaranku hilang perlahan-lahan.
Di rumah sakit ini, tepatnya rumah sakit jiwa katanya, aku di kurung. Aku dikatakan sebagai orang gila. Tapi, aku tidak merasa begitu. Mereka itulah, Para Pasukan Gila Berseragam Putih yang selalu memperlakukanku layaknya orang gila. Mereka adalah petugas kesehatan. Namun, aku menyebut mereka Para Pasukan Gila Berseragam Putih. Aku membenci mereka. Terutama yang namanya Dr. Fandi.
Dr. Fandi adalah pemimpin operasi Para Pasukan Gila Berseragam Putih yang selalu menyuntikkan senjata kimianya ke nadiku, ketika aku mulai mengamuk. Aku sebenarnya tidak ingin mengamuk. Namun, teman-temanku terkadang ingin merebut anakku dari tanganku. Anakku menangis karena ulah mereka. Kasihan anakku. Aku tak akan membiarkan siapa pun menyakitinya. Aku sayang kamu, Clara.
Clara, anakku. Umurnya 1 tahun. Ia lucu sekali. Ia belahan jiwaku. Ia separuh jiwaku. Tak mungkin aku bisa hidup tanpanya. Ia selalu menangis, apalagi saat malam tiba. Namun, aku akan selalu menjaganya setiap waktu. Aku akan memberikannya botol susu yang susunya tak pernah habis itu, jika ia mulai menangis. Namun, hal itu selalu dianggap bahwa aku orang yang tidak waras. Aku tak mengerti.
Begitulah hidupku setiap hari. Aku sangat menikmatinya. Namun, mereka kadang mengganggu duniaku. Aku tidak sedang berkhayal. Merekalah yang berkhayal dan bilang aku orang gila. Aku tidak peduli lagi dengan perkataan mereka. Terserah mereka. Aku diam saja, asyik dengan duniaku bersama anakku, Clara. Tapi, awas! Jangan sekalipun mengambil anakku dariku. Jika demikian, aku tak akan bisa diam lagi.
Senin sore ini, aku melihat seorang wanita sedang berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit ini bersama Dr. Fandi. Mereka tampak serasi. Cantik dan tampan. Namun, aku mulai ketakutan. Aku menutup mukaku dengan kertas. Aku takut keberadaanku diketahui mereka. Dua orang berseragam putih menghampiriku. Ya, wanita itu dan Dr. Fandi.
Namun, usahaku sia-sia. Mereka mengetahui keberadaanku. Tapi, untung saja mereka tidak berbuat apa-apa kepadaku. Mereka hanya membicarakanku.
“ Dr. Mia, kalau yang ini namanya Ibu Lani Sufainy. Sudah 6 bulan ini, ia berada di sini. Ibu Lani jadi seperti ini akibat anaknya, Clara, meninggal dalam sebuah kebakaran. Bukan saja ia kehilangan anaknya, namun juga rumah dan semua hartanya,” Dr. Fandi menjelaskan.
“ Lalu, di mana suaminya?” Dr. Mia menanyakan.
“ Suaminya selalu menyalahkannya hingga ia menjadi seperti ini. Suaminya lalu pergi meninggalkannya. Ia malu. Ia tak mau lagi mengurus istrinya yang telah jadi seperti ini.”
“ Kurang ajar. Dasar lelaki tak bertanggung jawab. Mana bisa ia menyalahkannya seperti itu. Itu semua kehendak Yang di Atas, bukan?” Dr. Mia tampak emosi.
“ Ya begitulah. Untungnya, saya bukan lelaki seperti itu, kan?” Dr. Fandi sedikit menggombal.
“ Gombal saja kamu,” Dr. Mia sedikit tersenyum, agak salah tingkah.
Aku hanya diam saja mendengar mereka membicarakanku. Semuanya itu benar. Namun, ada dua hal yang tidak benar: Aku tidak gila dan anakku, Clara masih hidup. Ingat itu!
Mereka terus saja membicarakanku. Namun, aku tidak menghiraukannya lagi. Aku kini sibuk dengan duniaku.
Aku tersadar jika mereka telah pergi dari hadapanku, saatku dengar anakku, Clara menangis. Aku cepat mengambil botol susu itu dan memasukkannya ke dalam mulut anakku. Ia mulai terdiam. Aku pun lega.
Lihatlah anakku. Ia mudah sekali dirawat. Siapa yang bilang ia itu boneka? Ia itu anakku, Clara. Ia bayi mungil yang lucu, bukan?
Nina bobok.. Oh.. nina bobok.. Kalau tidak bobok.. Di gigit nyamuk…
Aku bernyanyi untuknya, agar anakku, Clara tidur dengan nyenyak malam ini.
Ssstt!
Diam! Anakku sedang tidur. Awas kalau kalian mendekat. Aku bisa saja mencelakakan kalian. Diam!
Ssstt!