And it takes no time to fall in love, but it takes you years to know what love is. – Jason Mraz

Masih di dalam suasana Valentine… Sebuah hari kasih sayang, hari dimana manusia mengungkapkan kasihnya satu sama lain.

Beberapa di antara mereka yang
tidak lagi sendiri membagi perasaan mereka dengan yang terkasih, beberapa manusia yang masih sendiri tidak ingin meluputkan momen ini untuk menyatakan
cinta mereka pada yang terkasih, tidak sedikit juga yang menikmati hari ini di dalam kesendirian dan perenungan dengan gigih memegang kaidah kesetiaan pada dia nun jauh di sana (terperangkap dalam hubungan jarak jauh). Ada yang berbahagia, ada juga yang bersedih di hari ini. Sungguh sangat menggugah saya
mengamati momen tersebut.

Bila saya survey apakah yang menjadi dasar dan motivasi seseorang mencari dan mendapatkan cinta? Begitu banyak versi jawaban yang saya peroleh. Sudah bosan
melewati kesendirian (padahal di tempat ramai saja kita tetap bisa merasa sepi), minta diperhatikan (mungkin sebaiknya dia bawa meja ke depan Monas dan
berdiri di atasnya sambil teriak-teriak, dijamin akan banyak yang memperhatikan tanpa perlu pdkt susah-susah), ada yang ingin merasa dibutuhkan (akhirnya
diporotin? Sounds classic guys), ada yang ingin melepas status singlenya (hey, what’s so wrong in being single? Buntutnya dapat pasangan posesifnya amit-amit,
leher serasa dipasang rantai. Seperti ada papan ‘kamu harap lapor minimal 1x 24 jam’), ada yang sudah didesak orangtuanya untuk mencari calon pasangan
hidup (ingin segera menjadi kakek/nenek, cukup aneh karena saya sendiri risih dianggap tua), ada yang ingin menjadikan pacar sebagai ukuran prestise (semakin kaya/berpenampilan menarik, semakin naiklah prestisenya; sudah seperti beli mobil saja padahal biaya ‘maintenance’-nya saja tidak sanggup bayar). Dari banyak sekali jawaban yang saya kumpulkan melalui survey itu, banyak dari mereka yang tidak menyadari bahwa jawaban mereka begitu dangkal. Sebenarnya dorongan utama mereka secara sadar atau tidak, sesungguhnya hanya mengacu pada sebuah hal saja, yaitu kebahagiaan (Yeah. Cuma pengen hepi, nuff said).

Ya! Kebahagiaan! Sebuah dorongan utama manusia dalam mencari cinta. Banyak sekali orang melupakan hal ini, silau akan prestise, pencapaian, pengakuan. Kerancuan
inilah yang membiaskan tujuan utama dari mendapatkan cinta. Perlu saya luruskan, bukanlah cinta bila tidak membuat Anda berbahagia, begitu mudah kita temui
kasus dimana pada akhirnya orang tersadar bahwa bukanlah cinta yang selama ini mereka dapatkan. Karena ego manusia yang membiaskan dan membutakan, Anda
mendapatkan keindahan, memuaskan nafsu dan hasrat Anda, tapi bukan cinta. Apabila bukan cinta yang Anda dapatkan dipastikan itu bukan kebahagiaan.

Ego Anda berkata Anda kesepian, ego berkata Anda membutuhkan seseorang yang cantik/ganteng dan kaya, ego Anda berkata Anda ingin pasangan yang dewasa dan
bebas dari insecurity. Tentu saja, itu sah-sah saja. Tapi cobalah bertanya pada diri Anda, apakah dia berbahagia bila bersama Anda? Apakah Anda mampu memberikan
apa yang Anda tuntut dari dia? Atau apakah Anda akan bahagia bila bersama dengannya? Sesungguhnya pasangan terbaik adalah pasangan yang seimbang dan sepadan.
Diperlukan sebuah keseimbangan dalam sebuah hubungan, selalu ada ‘take and give’ yang seimbang, Anda tidak bisa terus menuntut sementara tidak ada yang
bisa Anda berikan untuk membahagiakan pasangan Anda. Ego yang dituruti tanpa refleksi pada keadaan diri sendiri tidak akan pernah membawa Anda pada cinta
(berhentilah menuntut, mulailah menjadi yang terbaik untuk orang lain untuk mendapatkan yang terbaik).

Banyak orang yang menderita demi (apa yang mereka pikir/sangka) cinta, mereka sebenarnya salah kaprah dalam menafsirkan dorongan tersebut. Dorongan itu
bukanlah cinta, tetapi ego, yaitu rasa ingin memiliki, rasa ingin menguasai, sebuah penuaian harapan kosong akan perubahan situasi realita yang ternyata
tetap tidak akan pernah bisa sesuai dengan gambaran utopia mereka. Sekali lagi mereka terjembab dan menderita, lalu dengan dalih ‘demi cinta’ mereka mengulangi
lagi kesalahan yang sama. Terus-menerus seperti lingkaran setan, tanpa ujung dan pangkal yang jelas. Sekali lagi hari ini akan saya beri tahu, itu bukanlah
cinta. Karena cinta menghasilkan kebahagiaan.

Saya sempat juga bersinggungan dengan pria/wanita yang dikuasai egonya untuk mendapatkan pria/wanita yang mereka inginkan, mereka melakukan segala cara
(halal detected katanya), mulai dari berpura-pura menjadi dewasa (padahal mikir saja masih tidak becus), sok rohani (padahal rohina), berpura-pura bisa
diandalkan (padahal ada masalah sedikit saja nangis di pelukan nyokapnya), membuat plot untuk menjatuhkan (biasa bermarga simura=si mulut racun), menusuk
teman sendiri, mengancam saingannya (sampai main fisik karena merasa diri kurang olahraga, atau mungkin dianggap sebagai ajang pembuktian adu otot?), tidak
bisa melepaskan mantan hingga mengancam calon pasangan mantan (pakai acara mau bunuh diri segala), dan masih banyak sekali contoh-contoh konyol lainnya.
“All is fair in war and love” demikianlah dalih mereka. Maaf menurut pandangan saya, hal-hal yang mereka lakukan hanya memperjelas bahwa mereka adalah
manusia yang insecure dan immature. Akhirnya hanya kehilangan sahabat, penyesalan, kekecewaan, luka-luka, sakit hati saja yang tersisa. Jalan terbaik adalah
menjauhkan diri dari orang-orang berpenyakit mental seperti itu (sebenarnya dalam opini saya yang paling sederhana hal seperti itu sudah setara dengan
sakit jiwa). Seganteng, sekaya atau secantik apapun orang sakit jiwa seperti itu pada akhirnya hanya akan merepotkan. Kenali gejalanya, langsung saja Anda
menyingkir, karena Anda bukan berhadapan dengan penyakit yang bisa dihabisi dengan antibiotik sekalipun (jangan coba arsenic untuk menyembuhkan mereka,
Anda dijamin masuk penjara).

Lalu ada pula beberapa orang yang saya temui membela diri dengan mengatakan bahwa cinta memerlukan pengorbanan maka mereka menyiksa diri. Dengan tegas saya
nyatakan, cinta memang perlu pengorbanan, akan tetapi pengorbanan yang menghasilkan penyesalan, keluh kesah, omelan tanpa henti, itu bukanlah cinta. Itu
hanya ego, tidak lebih dan tidak kurang. Bila Anda berkorban demi cinta, Anda tidak akan mengeluh, Anda dengan ikhlas berkorban, karena cinta itu sabar,
cinta itu murah hati, cinta itu menutupi segala pelanggaran, cinta itu memaafkan, cinta tidak mencemburu. Dan dengan cinta Anda akan berkorban dengan senang
hati, tanpa penyesalan. Seorang pahlawan sejati berkorban dengan ikhlas, bahagia meski ia kehilangan nyawanya. Ia tidak mengeluh, ia tidak menyesal, ia
tidak kecewa. Yang ada di dalam hatinya hanyalah cinta, cinta lebih kuat dari maut sekalipun. Baru-baru ini saya menemukan bahwa ternyata bukan hanya narkoba
saja yang bisa membuat seseorang ketagihan, ternyata disakiti oleh pasangan/mantan pasangan juga bisa membuat seseorang ketagihan. Mereka kaum sadomakis
perasaan, yaitu orang-orang yang menikmati rasa sakit ketika mereka disakiti. Mereka ingin menghentikan semua itu, hanya saja mereka begitu minim dalam
pengendalian pikiran. Sehingga mereka sulit berkata tidak. “You are free when you are able to say NO!” Katakan tidak pada pikiran sia-sia, katakan tidak
pada kekesalan tanpa ujung, katakan tidak pada permainan perasaan, Anda akan terbebas dari rasa sakit dan mampu menikmati hidup Anda.

Seperti syair dari lagu “Life is Wonderful” dari Jason Mraz di atas, tidak butuh waktu lama untuk jatuh cinta, tapi memerlukan waktu bertahun-tahun untuk
memahami apa itu cinta. Diperlukan waktu bertahun-tahun bagi saya untuk membedakan ego dari cinta. Semoga di hari kasih sayang ini, kita menjadi mengerti
perbedaan ego dengan cinta. Ego hanya menghasilkan kekecewaan, kesedihan dan penyesalan tak berujung. Ingatlah, ketika Anda jatuh cinta, tujuan utama Anda
bukanlah menguasai dirinya, bukanlah menjadikan dirinya milik Anda, menjadikannya sebagai sebuah trophi untuk Anda pamerkan kepada teman-teman Anda (memangnya
barang?), juga bukan untuk memamerkan status baru Anda ‘in a relationship’ (sampai dipestain ‘pecah telor’). Bila itu tujuan utama Anda, tidak heran bila
Anda terus-menerus kecewa, karena ego manusia tidak akan pernah bisa terpuaskan. Tujuan utama Anda meraih cinta adalah berbahagia dengan orang yang Anda
cintai. Diperlukan dua orang yang dewasa, bertanggungjawab, secure dan berbahagia untuk saling berbagi kebahagiaan. Putuskanlah untuk berbahagia, karena
itulah hakikat cinta.

As for me, the words: “Live Hapily Ever After” is not a destination but a journey that needs a lot of efforts. Finding the one is not a goal, actually beginning
of a new chapter. A chapter of adaptation, understanding, taking and giving. Most people disappointed in the end because ruled by their ego, always take
but never give. No tolerance and compromise take you nowhere, just another break up.

Resapi, renungkan dan praktekkan. Karena perubahan memerlukan tindakan. Happy Valentine. Ciao.

Source : Cahyadi Tanujaya