Dalam postingan sebelumnya, Sekelumit Tentang Valentine’s Day saya sedikit menyentil sebuah fakta bahwa masyarakat kita merupakan pakar dalam hal peniruan/penjiplakan/ikut-ikutan. Sebenarnya ada satu lagi istilah yang lupa saya cantumkan yaitu “latah”. Nahh, dalam postingan kali ini, kita akan disuguhi mengenai apa saja yang perlu diketahui tentang kebiasaan latah ini. Bagi yang latah, ini sangat bermanfaat buat Anda karena Anda dapat menentukan sendiri (termasuk kategori latah yang manakah Anda); dan bagi yang tidak merasa latah, saya pikir kita semua setuju bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Setuju??? hahaha…

1. Pengertian Latah

Menurut KBBI edisi ketiga, latah mempunyai arti ;
list of 4 items
• Menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain.
• Berkelakuan seperti orang gila, misalnya; karena kehilangan orang yang dicintai
• Meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain
• Mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh.
list end

Menurut Dr. Rinrin R. Kaltarina, Psi.,M.Si., Latah adalah ucapan atau perbuatan yang terungkap secara tak terkendali setelah terjadinya reaksi kaget.

Latah adalah ucapan atau perbuatan yang terungkap atau tidak terkendali, pascareaksi kaget (starled reaction). Saat latah muncul yang berkuasa alam bawah
sadar (subconcious).

2. Penyebab Latah

Penyebab utama latah adalah kecemasan atau tertekan gara-gara stres. Ada beberapa teori yang menyebabkan timbulnya gangguan latah, yaitu :

Teori Pemberontakan. Dalam kondisi latah, seseorang bisa mengucapkan hal-hal yang dilarang tanpa merasa bersalah. Gejala ini semacam gangguan tingkah laku.
Lebih kearah obsesif karena ada dorongan yang tidak terkendali untuk mengatakan atau melakukan sesuatu.

Teori Kecemasan. Gejala latah muncul karena yang bersangkutan memiliki kecemasan terhadap sesuatu tanpa ia sadari. Rata-rata, dalam kehidupan pengidap
latah selalu terdapat tokoh otoriter, entah ayah atau ibu. Bisa jadi, latah merupakan jalan pemberontakannya terhadap dominan orang tua yang sangat menekan.
Walau demikian tokoh otoriter tidak harus berasal dari lingkungan keluarga.

Teori Pengondisian. Inilah yang disebut latah gara-gara ketularan. Seseorang mengidap latah karena dikondisikan oleh lingkungannya, misalnya gara-gara
latah, seseorang merasa diperhatikan dan diperhatikan oleh lingkungan. Dengan begitu, latah juga merupakan upaya mencari perhatian. Latah semacam ini disebut
”latah gaul”.

3. Macam – Macam Latah

Menurut Dr. Rinrin R. Kaltarina, Psi.,M.Si. Ada empat macam latah:
Ekolalia: mengulangi perkataan orang lain

Ekopraksia: meniru gerakan orang lain

Koprolalia: mengucapkan kata-kata yang dianggap tabu/kotor

Automatic obedience: melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut, misalnya; ketika penderita dikejutkan dengan seruan perintah seperti ”sujud”
atau ”peluk”, ia akan segera melakukan perintah itu.

4. Bahaya Latah

Mengekang Kreatifitas. Karena kita sudah terbiasa untuk meniru orang lain, berbuat seperti orang lain bertingkah laku. akhirnya kita kehilangan daya untuk
‘mencipta’ hal-hal yang baru, yang lebih segar dan kita akan mapan dengan kejumudan. “be a leader dont be a follower”

Mengikis keberagaman. Jangan harap menemukan hal-hal ‘baru’ jika budaya ini terlanjur menjadi akut. semua orang akan memilih untuk seragam ketimbang bersusah
payah membuat hal yang sama sekali lain. Bisa-bisa slogan kita akan berubah dari “walaupun berbeda namun tetap satu jua” menjadi “walaupun satu asalkan
berbeda-beda”.

Baik Buruknya Tergantung Peniruan

Menurut Evi Elviati, Psi., psikolog dari Essa Consulting Group, baik buruknya anak bersikap latah terhadap sang teman tergantung apa yang ditirunya. Jika
sifatnya negatif, maka orang tua harus segera menghentikan dengan memberinya penjelasan kepada anak. Sebaliknya, jika yang dicontoh adalah hal-hal positif,
maka orang tua justru harus memberikan dukungan agar anak terus melakukan hal itu.

5. Penanganan / Penyembuhan

Syarat munculnya latah adalah adanya keterkejutan. Untuk mengurangi dan menyembuhkan latah, ia harus bisa menemukan ketenangan hidup. Misalnya, keluar dari
rumah kalau orang tuanya kerap melakukan tekanan atau berganti bidang pekerjaan jika pekerjaannya itu membuatnya stres.

Untuk menyembuhkan si latah, lingkungan memang harus berempati. Ada penderita latah yang sembuh sendiri setelah berkeluarga dan hidup tenang. Selebihnya,
penderita dianjurkan melakukan latihan relaksasi, meditasi, dan konsentrasi secara rutin. Kegiatan ini akan membantu penderita menuju kesembuhan. Dan,
sering-seringlah melakukan aktivitas menyenangkan yang tidak membuat stres (Dr. Rinrin R. Khaltarina, Psi., M.Si.).

Terapi puasa cukup populer di Eropa maupun AS. Kabar gembira lain, hasil riset terakhir membuktikan puasa yang dijalankan secata tepat dan benar, bisa
berfungsi sebagai terapi bagi penderita latah. Ini bersumber kepada fakta bakti bahwa pausa dapat membuat seseorang lebih mampu menguasai dan mengendalikan
diri.

Sumber :
unic66.blogspot.com