Nah, ini dia salah lima dari sekian banyak orang-orang paling jenius sepanjang sejarah. sebenarnya ada enam orang sih yang ingin saya ceritakan di sini, tapi tidak enak rasanya menceritakan diri sendiri… (hehehe,,, narcis bgt ya!!?) Meski dengan keunikan atau lebih dianggap sebagai gangguan psikis yang mereka miliki, justru mereka mampu menghasilkan karya-karya yang luar biasa dan mempengaruhi peradaban manusia. Saya ingin kita jangan memfokuskan perhatian pada gangguan psikis mereka karena tanpa kita sadari kita pun sebenarnya punya keunikan masing-masingng hanya saja sering kali kita tak mau mengakuinya sebagai gangguan, tetapi marilah kita belajar dari kesuksesan mereka di tengah beratnya tekanan yang mereka hadapi terkait dengan gangguan psikis yang mereka alami.

Jika saya menyimak kisah orang-orang ini, kesimpulan terbesar saya adalah gangguan psikis mereka bukanlah penghambat, malah merupakan faktor utama pemicu kreatifitas mereka dalam menghasilkan karya-karya masterpeace. Dengan kata lain, jika dikaitkan dengan slogan blog ini, mereka mampu menciptakan comfort zone meski dalam situasi dan titik yang paling kritis dan berbahaya sekalipun. Betul betul betul???
Ok langsung saja kita simak kisah singkatnya ya…

Sir Isaac Newton (1642 – 1727)

Dengan begitu banyaknya kontribusi di bidang fisika dan mekanika, Sir Isaac Newton terkenal sebagai pemikir ulung. Memang, dari berbagai jajak pendapat
mengenai kedua ilmuwan ini (Isaac Newton dan Albert Einstein) menunjukkan bahwa publik sepakat kalau Newton bahkan melebihi Einstein dalam hal pengaruh [sumber: The Royal Society]
Menurut ensiklopedia Britannica, Newton mengalami psychotic tendencies dan mood swings. Selain itu, berbagai surat yang dibuatnya menyimpulkan bahwa secara teoritis ia menderita schizophrenia [sumber: Glover].

Ayah Newton meninggal sebelum ia lahir, dan ia dipisahkan dari ibunya antara usia dua-11 tahun. Gangguan mental yang dialaminya mungkin akibat dari trauma yang berkepanjangan pada masa kecilnya.

Ludwig van Beethoven (1770 – 1827)

Kontribusi Beethoven di dunia musik sangat monumental. Kegairahannya dan musikalitasnya yang begitu intensif dan cemerlang membawa musik instrumental ke jenjang yang baru. Namun, sang komposer memiliki kehidupan yang sulit. Ayahnya seorang pemabuk berat dalam keluarga yang tidak harmonis. Satu masalah tragis yang dihadapinya adalah bahwa ia harus mulai kehilangan pendengarannya sejak berumur sekitar 30 sampai 49 tahun, yang sepertinya adalah dampak dari pemukulan yang dilakukan ayahnya. Hebatnya, ia justru sanggup menggubah karya-karya masterpeace-nya saat ia benar-benar tuli.
Sempat beberapa kali Beethoven menulis surat kepada saudaranya, dan banyak dari tulisan itu menceritakan keinginannya untuk bunuh diri.

Francois Martin Mai berpendapat bahwa sang maestro terindikasi mengidap bipolar depression, hal itu dituliskannya dalam buku “Diagnosing Genious”. Mai juga menduga kuat bahwa Beethoven banyak menghabiskan masa hidupnya mengidap bipolar disorder.

Edgar Allan Poe (1809 – 1849)

Edgar Allan Poe, seorang penulis yang sering mengarang kisah-kisah detektif dan cerita horror, terkenal dengan puisinya yang berjudul “The Raven”.
http://www.rajapena.ning.com/forum/topics/puisi-the-raven
Ia memiliki
gaya penekanan yang kuat dan terstruktur dalam cerita-ceritanya. “The Murders in the Rue Morgue”, yang terbit tahun 1841, disebut-sebut sebagai kisah modern detective pertama.
http://id.wikipedia.org
Sekalipun memiliki skill menulis, Poe terkenal sebagai seorang pemabuk, dari surat-suratnya terungkap bahwa ia bermasalah dengan suicidal thoughts. Tidak ada yang tahu penyebab dan banyak hal mengenai kematiannya di umur 40 tahun, tapi mungkin karena sakit jantung yang disebabkan kebiasaannya yang suka mabuk itu.

Berdasarkan pengamatannya pada surat-surat Poe, Kay Redfield Jamison berspekulasi bahwa Poe mengidap manic-depressive, atau yang sekarang disebut bipolar
disorder.

Di dalam bukunya, dia beranggapan kreatifitas yang dimiliki seorang Poe berkembang dari sebuah kegilaan. Dia menulis “mind-sickness dapat memunculkan cosmic-perspectif
yang membuahkan kreatifitas mengalir deras”.

Vincent van Gogh (1853 – 1890)

Lukisan-lukisan Vincent van Gogh , seperti Starry Night dengan cepat dikenali dari keunikan dan ekspresi sapuan kuas. Namun, itu tidak membuat van Gogh mendapatkan popularitas sampai pada kematiannya. Tetapi sekarang ia dianggap salah satu yang terbesar dalam sejarah pelukis.

Kehidupan Van Gogh sangatlah tersiksa. Hampir semua orang mengenalnya sebagai seorang pelukis yang memotong sebagian telinganya sendiri. Dia diduga kuat pernah “mabuk” terpentin dan pernah mencoba makan cat [sumber: Mancoff]. Tragisnya, ia bunuh diri pada tahun 1890.

Penulis D. Jablow Hershman dan Dr Julian Lieb mengatakan dalam buku mereka “Manic Depresi dan Kreativitas” bahwa van Gogh telah mengalami bipolar disorder.
Dalam bukunya “Touched with Fire” Dr Kay Redfield Jamison menemukan kesimpulan yang sama.

Dia juga membahas seni van Gogh dalam hubungan dengan penyakit mental. Misalnya, ia mencatat bahwa pola musiman yang khas dari suasana hati dan psikosis sejajar dengan produktivitas van Gogh, yang juga bervariasi oleh musim; sedangkan yang lain mengira ia menderita skizofrenia [sumber: Delisi].

John Nash (1928)

Pemenang penghargaan film “A Beautiful Mind” mempopulerkan cerita tentang John Nash.
id,wikipedia.org
Nash adalah seorang matematikawan terkenal di dunia yang berjuang dengan skizofrenia paranoid setelah datang dengan kontribusi yang signifikan pada konsep “game theory”.
Ide dari Nash Equilibrium, yang membahas apakah para pemain dalam sebuah permainan bisa mendapatkan keuntungan jika salah satu dari mereka melakukan perubahan strategi, dapat diterapkan pada berbagai bidang, termasuk ekonomi. Militer AS bahkan telah mengadopsi berbagai teknik dari idenya pada Perang Dingin.

Walaupun film (berdasarkan biografi Sylvia Nasar dengan nama yang sama) bebas bercerita tentang kehidupan Nash, dia mengalami halusinasi dan delusi. Halusinasinya termasuk mendengar suara-suara, tetapi tidak melihat orang-orang atau hal-hal yang tidak ada di sana.

Dia mulai memiliki delusi keagungan dan percaya bahwa dia akan termasuk dalam tokoh-tokoh dunia [sumber: PBS].

Setelah menghabiskan sekitar 30 tahun berjuang dengan kekacauan dan menghabiskan waktu dengan keluar masuk rumah sakit, ia mulai pulih secara signifikan
pada akhir 1980-an.
Pada tahun 1994, John Nash menerima Penghargaan Nobel dalam Ilmu Ekonomi untuk karya awalnya dengan “game theory”.

sumber: http://www.sayakasitahu.com