Keterpurukan, hilangnya semangat hidup, keputusasaan, tak dapat dipungkiri pasti pernah dialami oleh semua manusia. Penyebabnya tentu berfariasi, ada yang karena masalah ekonomi, cinta, pendidikan, karier, sakit-penyakit, dan lain sebagainya. Memang kita pasti selalu mendapatkan nasehat, saran, atau apalah namanya entah itu dari sahabat-sahabat kita, orangtua kita, saudara-saudara kita, bacaan-bacaan yang bersifat inspiratif/motivatif, bahkan langsung dari Sang Pencipta melalui kitab suci, yang mana semua itu tentu bertujuan mengangkat kembali semangat kita ke level tertinggi dan me-recharge energi positif dalam diri kita hingga penuh kembali.
Namun harus diakui tidak selamanya alat-alat pembangkit energi positif di atas bermanfaat bagi kita. Semua tetap bergantung pada sikap hati masing-masing individu. Mungkin sudah beratus-ratus nasehat yang kita dapatkan, ribuan bacaan motivatif yang kita simak, tetapi tetap saja hati kita terluka, jiwa kita merasa hampa, frustrasi merajalela dalam diri kita, dan bayang-bayang kegagalan menghantui hidup kita. Mengapa demikian? Apakah nasehat-nasehat itu salah? Atau bacaan-bacaan itu mengada-ada?
Mungkin saja memang ada satu atau dua di antara nasehat dan bacaan itu yang tidak sesuai dengan kebutuhan kita atau sedikit melenceng dari situasi yang kita hadapi, tetapi sesungguhnya yang menentukan apakah nasehat dan bacaan itu bermanfaat atau tidak adalah sikap hati kita. Jika kita menempatkan masalah kita di tempat tertinggi dalam hati kita, maka segala bentuk saran, nasehat, kata-kata bijak, dan bahkan ayat-ayat kitab suci sekalipun tidak akan mempan terhadap keterpurukan kita. Kita akan tetap frustrasi, kehilangan semangat hidup, menangisi diri sendiri dan cenderung selalu menyalahkan orang lain, bahkan Sang Pencipta.
Saat tulisan ini dibuat, demikianlah yang sedang terjadi pada diri penulis. Berbagai kejadian yang dialami beberapa hari belakangan ini sungguh tak terduga sebelumnya dan semuanya berbanding terbalik dengan rencana dan impian penulis. Tak pelak lagi ini membuat penulis sempat tak berdaya dan memunculkan sosok lain dalam diri penulis, yaitu sosok seorang “pecundang”. Sebuah sosok yang tidak seharusnya dimiliki oleh siapapun di dunia ini. Beberapa waktu lamanya penulis tenggelam dan mungkin bisa dikatakan menikmati kehidupan dalam sosoknya yang lain itu hingga suatu hari di sebuah acara ibadah, si pembicara membahas tentang “kompetisi” dalam kehidupan, penulis seolah terjaga dari mimpi buruknya yang berkepanjangan. Pembicara itu mengatakan: “Tuhan memerintahkan kita untuk bertanding bukan supaya kita kalah, tetapi sebaliknya Ia ingin kita menang bersama dengan Dia. Jadi apapun yang terjadi, seburuk apapun situasi yang kita hadapi, tetaplah berjuang, jangan mau terintimidasi dengan perkataan orang lain, apalagi dengan masa lalu kita!”
Sungguh sangat “menyentuh” hati penulis dan sejak saat itu penulis bertekad untuk sesegera mungkin mengusir sosok “pecundang” yang telah menggerogoti hari-hari indahnya beberapa waktu belakangan ini. Memang tidak mudah tetapi harus terus dicoba dan tentu saja tidaklah mungkin dengan kekuatan sendiri, melainkan dengan mengandalkan Tuhan saja semua itu akan berhasil. Amin…