Kisah ini saya sadur secara bebas dari sebuah kisah yang teks aslinya berbahasa Inggris tetapi sayang sekali saya lupa judulnya. tak apalah, yang penting isinya dapat dipahami dan maknany tersampaikan ke hati kita masing-masing. kisah ini sungguh memberi energi positif bagi saya karena menunjukkan bagaimana seorang anak kecil ternyata mempu menciptakan comfort zone di dalam situasi yang paling kritis di akhir-akhir hidupnya. Comfort zone ini lalu berusaha ditularkannya kepada ibunya agar ibunya tidak perlu hanyut dalam kesedihan saat harus kehilangan dia untuk selamanya. Penasaran?

Sally tersentak dan langsung bangkit dari duduknya begitu melihat seorang dokter bedah ke luar dari operasi. “Bagaimana anak saya Dok? Apakah keadaannya sudah mulai membaik? Kapan saya boleh mengenguknya?” tanyanya tergesa-gesa.
Dokter itu menjawab: “Maaf, kami sangat menyesal, kami sudah melakukan segalanya semampu kami tapi anak ibu … tidak tertolong lagi.”
Dengan perasaan yan hancur Sally berkata: “Mengapa seorang anak kecil dapat terserang kanker? Apakah Tuhan sudah tak perduli lagi? Tuhan, di manakah Engkau saat anakku sangat membutuhkanMu?”
Dokter bedah itu berkata dengan lembut: “Sebentar lagi seorang perawat akan ke luar dari ruangan itu dan mempersilakan anda menghabiskan waktu bersama anak anda sebelum jenazahnya dipindahkan ke universitas.”
Tak lama kemudian seorang perawat memberi isyarat padanya untuk memasuki kamar jenazah. Namun sebelum perawat itu pergi, Sally meminta untuk ditemani sementara ia mengucapkan salam perpisahan kepada puteranya. Saat ia mengusap rambut putranya yang tebal dan kemerah-merahan itu, sang perawat bertanya: “Apakah anda ingin menyimpan seikat rambutnya?”
Sally mengangguk. Perawat itu pun segera memotong seikat rambut dari jasad anak kecil itu lalu meletakkannya ke dalam sebuah kantong plastic dan menyerahkannya kepada Sally. Ia menatap jasad putranya lalu berkata pada perawat itu: “Ini memang keinginan Jimmy agar jasadnya diserahkan kepada pihak universitas untuk keperluan penelitian. Dia bilang, hal itu mungkin dapat menolong banyak orang, dan itulah yang ia harapkan. Aku menentangnya tapi dia bersikeras. Dia bilang, “mama, aku tidak akan membutuhkan tubuhku lagi setelah aku mati. Mungkin ini bias menolong anak-anak lain untuk dapat melewati setidaknya satu hari lagi bersama ibunya” anakku ini memang berhati emas, dia selalu memikirkan orang lain dan sebisa mungkin menolong mereka.”

Sally lalu meninggalkan rumah sakit tersebut setelah hamper enam bulan berada di sana. Ia membawa tas yang berisi barang-barang Jimmy. Berat sekali rasanya ketika ia harus kembali ke rumah yang telah kosong itu. Sesampainya di rumah, dibawanya tas yang berisi barang-barang Jimmy itu ke kamar tempat Jimmy dulu. Ia mulai meletakkan kembali benda-benda tersebut ke tempatnya semula. Setelah selesai, ia lalu membaringkan tubuhnya di ranjang. Sambil memeluk bantal, ia menangis sejadi-jadinya hingga kelelahan dan akhirnya tertidur. Ketika ia terjaga pada tengah malam, tiba-tiba ia melihat sehelai kertas yang terlipat rapi tergeletak di sebelahnya. Saat ia meraih dan membukanya, betapa terkejutnya ia karena ternyata kertas itu adalah surat dari Jimmy.
“Mamaku saying, aku tahu mama pasti akan merindukanku, tapi jangan pernah berpikir bahwa aku akan melupakan mama dan berhenti menyayangi mama. Aku akan mengingat dan menyayangi mama selamanya dan suatu hari kita pasti akan bertemu lagi. Kalau mama ingin mengadopsi seorang anak laki-laki agar mama tidak merasa kesepian lagi, nanti ia bias menggunakan kamarku, barang-barangku, dan juga memiliki semua mainanku. Tapi jika ternyata mama ingin mengadopsi seorang anak perempuan, mungkin ia tidak akan suka memakai barang-barang atau mainan seperti yang dimiliki oleh anak laki-laki, jadi mama harus membelikannya banyak boneka dan berbagai aksesoris yang disukai oleh seorang anak perempuan. Janganlah saat mama teringat padaku, di sini benar-be tidak tahan melihatku menanggung penderitaan seperti itu. Makanya Ia mengirimkan seorang malaikat ‘belas kasihan’ kepadaku untuk membawaku kepadaNya. Malaikat itu berkata bahwa aku adalah sebuah pesanan special dari Tuhan.