dari tanggal 12 Oktober yang lalu, aku mengikuti sebuah pelatihan di Bogor. pelatihan ini diberi judul: “Pelatihan Peningkatan Kemahiran Pembimbing Komputer Bicara” yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Kemensos RI. sebagai salah satu UPT di bawah naungan Dirjen Yanresos dan yang ikut berperan menangani penyandang cacat netra di Indonesia, instansi tempatku bekerja tidak afdol rasanya jika tidak berpartisipasi. apalagi tentu saja anggaran yang memadai sudah disiapkan untuk setiap peserta. jadi tidak heran kalau setiap pegawai mendambakan untuk diikutsertakan dalam berbagai pelatihan.

setelah hampir dua tahun di tempat ini, baru kali itu aku diutus dari kantor untuk mengikuti pelatihan. awalnya sempat jadi beban juga bagiku karena aku belum pernah sama sekali ke tempat pelaksanaan pelatihan itu. seumur-umur aku belum pernah ke Bogor, kalaupun pernah, itu hanya numpang lewat dalam perjalanan. kalau ada teman sih no problem, dan memang setahuku biasanya setiap kkali pelatihan “komputer bicara” ini diadakan, instansi tempatku bekerja sekarang ini selalu mengirim 2 utusan, tapi entah kenapa tahun ini hanya aku yang diutus. aku pikir ya ngga apa-apa juga sih kalau nantinya uang harian dan uang pengganti transportnya diberikan dengan hitungan dua orang… (hehehe…).
singkat cerita akhirnya aku pun berangkat ke sana ditemani ibuku yang kebetulan telah ada di Jakarta beberapa hari sebelum tanggal 12 itu. aku berangkat jam 5 subuh dari rumah dinasku, padahal untuk sampai ke Bogor hanya perlu waktu sekitar 4 jam saja (kata teman-temanku) dan pembukaan pelatihan itu pun baru akan dilaksanakan jam 7 malamnya. kata ibuku ada baiknya kami berangkat lebih awal karena kami belum tahu letak pasti dari hotel tempat akan berlangsungnya pelatihan itu, jadi kami bisa punya banyak waktu untuk mencarinya. aku ikuti saja saran beliau.
saat tiba di sana, waktu masih menunjukkan pukul 11. kami ditempatkan di kamar 205. di daftar peserta, aku mengetahui bahwa aku akan sekamar dengan peserta dari sebuah Panti Sosial Bina Netra yang berlokasi di Bandung. awalnya memang aku berniat untuk berangkat bersama mereka dari bandung, tetapi karena terjadi miscommunication, akhirnya itu tidak bisa menghubungi mereka. setelah membereskan barang-barang bawaanku, aku dan ibuku ke luar untuk makan siang karena pelayanan makan bagi peserta pelatihan ini baru akan berlaku mulai nanti malam. sebenarnya kami tidak berdua saja saat ke luar makan itu, kami juga ditemani oleh seorang peserta lainnya yang berasal daei Yogja yang telah tiba lebih awal dari kami. jujur aku sedikit merasa terganggu dengan tingkah laku ibu itu. dia orang tidak pernah kehabisan bahan untuk diucapkan, sementara aku adalah orang yang tidak terlalu suka berbicara. *aku lebih suka menulis* tapi aku berusaha untuk bisa mengimbanginya tanpa harus membunuh karakterku sendiri. aku menanggapi seperlunya saja setiap yang dikatakannya, sambil sesekali memujinya seobjektif mungkin. yaaaaaah, paling tidak aku masih bisa menyenangkan orang lain dengan caraku sendiri. saat kami kembali ke hotel, ibu itu mengajakku ke kamarnya dengan alasan agar aku tidak kesepian sendiri di kamar karena teman sekamarku belum tiba. namun aku berdalih ingin beristirahat dulu karena masih lelah akibat perjalanan tadi. padahal kalau dipikir-pikir dialah yang harusnya lebih lelah karena perjalanannya lebih lama dan lebih jauh. oleh karena ibuku harus segera ke Bekasi, maka sekembalinya kami ke hotel, ia pun langsung melanjutkan perjalanannya. tinggallah aku sendirian di kamar itu, menikmati suasana. aku menemukan zona nyaman sementara waktu itu. kupikir, aku harus bisa menikmatinya seoptimal mungkin sebelum teman sekamarku datang. akupun menyalakan televisi dan membaringkan tubuhku di atas ranjang yang empuk itu. perlahan-lahan aku melemaskan otot-ototku dan berusaha untuk bisa terlelap. akhirnya memang bisa, namun sepertinya baru sebentar saja ketika aku harus terbangun karena mendengar suara ketukan di pintu. wah, sepertinya teman sekamarku sudah datang dan itu berarti area zona nyamanku akan sedikit berkurang. dalam hati aku berharap semoga dia bukan orang yang seperti ibu tadi ataupun orang yang suka usil dan banyak aturan.
***
wah, teman-teman, aku ingin sekali segera menyelesaikan kisah ini di sini, tapi rasanya aku sudah sangat lelah. jadi tunggu saja kelanjutan kisahnya dalam postingan berikutnya ya? see you…