Seperti yang telah saya tuliskan pada halaman profil saya, bahwasanya pekerjaan saya sehari-hari adalah sebagai staf editor pada sebuah lembaga pencetakan braille yang tentu saja berorientasi pada pemenuhan kebutuhan para penyandang tunanetra akan tersedianya bahan bacaan dalam huruf braille. Kaum tunanetra pun adalah salah satu komponen bangsa yang berhak mendapatkan pencerdasan seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD/45. Oleh karena itu pemerintah sudah selayaknya memberi perhatian khusus terhadap kaum tunanetra dalam berbagai aspek, termasuk dalam hal penediaan informasi yang mudah diakses oleh para tunanetra. Maka dari itu, pada tahun 1961 didirikanlah sebuah instansi pencetakan braille yang berada di bawah naungan Kementerian Sosial RI yang bernama Balai Pencetakan Braille Indonesia (BPBI) Abiyoso. Berikut ini sekilas sejarah dan perkembangannya.

SEJARAH BPBI ABIYOSO

BPBI adalah satu-satunya Instansi Pemerintah yang mengemban tugas melayani para Penyandang Cacat Netra dalam bidang bacaan. BPBI ini mempunyai perjalanan sejarah yang cukup panjang dalam pendiriannya. Bermula dari hasil penyelidikan Tn. M.J. Lenderink.
M.J. Lenderink, direktur Institut tot Onderwijs aan Blinden dalam tahun 1900 mebuktikan bahwa jumlah tunanetra di Indonesia sangat besar. Penderitaan mereka hanya dapat diatasi dengan mendirikan lembaga pendidikan. Atas usulnya, maka Menteri jajahan J.F. Cremer membentuk panitia penyelidikan yang terdiri dari pejabat-pejabat pemerintah dan swasta. Dan akhirnya pada tanggal 26 April 1901 diresmikanlah awal usaha penyantunan tunanetra Indonesia oleh Jhr. E. Th. Van Bethem Van Berg, Dr. H.A. Weshoff, Ds. W. Van Lingen, R.A.A Soeria Atmadja dan lain-lain. Perkumpulan ini diberi nama “ Vereniging tot Verbetering van het lot der Blinden in Nederlandsch Oost-Indie”, dengan Surat Keputusan Pemerintah Nomor 9 tanggal 6 Agustus 1901. Sebagai pelindungnya adalah Gubernur Jenderal W. Rooseboom. Pimpinan pertama dalam usaha ini dijabat oleh J.W. Van der Zanden yang diresmikan pada upacara pembukaan Bandoengsche Blinden Institute (Lembaga Rumah Buta) pada tanggal 16 September 1901 di Jalan Cicendo No. 2 Bandung.
Dengan mengikuti perkembangan jumlah murid, pada bulan Mei 1902 Lembaga Rumah Buta pindah ke Jalan Braga Bandung. Saat itu Wakil Direktur Lembaga tersebut adalah Ny. Van Hoogeven Sterk, dan Dr. Weshoof sebagai Pengawas Hariannya. Permulaan usaha tersebut menarik perhatian berbagai kalangan baik di dalam maupun luar negeri. Bantuan-bantuanpun berdatangan antara lain dari Negeri Belanda dan Raja Muangthai. Keberhasilan usaha ini digunakan untuk memulai pembukaan workshop.
Pada tahun 1902 dibelilah sebidang tanah seluas 3 bahu yang terletak di Jalan Pajajaran No. 52 Bandung. Setelah dibangun dengan bantuan Pemerintah maka pada tanggal 24 Juli 1903 kompleks Rumah Buta Bandung diresmikan oleh Ketua Kehormatan Perkumpulan Residen yaitu G.J.A.F Oosthout yang kemudian diserahkan kepada Ketua Perkumpulan yakni Dr. Weshoof. Dan sejak itu Lembaga Rumah Buta berlokasi di Jalan Pajajaran No. 52 Bandung yang sekarang terkenal dengan PSBN “ Wyata Guna “.
Direktur Lembaga Van der Zanden pada tahun 1902 meninggal dunia, kemudian diganti oleh W. Molenaar yang kemudian pada tahun 1904 digantikan oleh F. Mewes.
Dalam bidang pendidikan Lembaga Rumah Buta mulai menerapkan suatu sistem baru yaitu dengan cara meraba, mencium dan mencicipi sehingga ilmu tumbuh-tumuhan dan tentang tanah liat tidak lagi asing bagi tunanetra.
Dalam tahun 1904 workshop telah dapat memberikan pekerjaan teratur kepada 49 orang tunanetra dengan bahan-bahan baku yang murah dan biasa terdapat di desa, dengan maksud bahwa di kemudian hari para pekerja tunanetra itu akan dapat mencari nafkah sendiri di desa masing-masing.
Di bidang pendidikan anak asuh tak kalah dengan anak awas. Hal ini dibuktikan dengan adanya anak asuh tunanetra yang telah dapat menyelesaikan pendidikan Lyceum (setingkat SMU sekarang) dengan baik.
Demikianlah perkembangan tunanetra di Indonesia pada saat itu. Pada tahun 1906 Dr. Weshoof telah membuat laporan bahwa pekerjaan konsolidasi perkumpulan telah mantap, namun sayang bahwa kedatangan para tunanetra masih sangat kurang. Untuk mengatasi hal ini maka usaha penyuluhan lebih ditingkatkan lagi dengan bantuan Pamong Praja dengan Kepala Sekolah melalui pengedaran laporan-laporan, folder-folder, demonstrasi-demonstrasi ketrampilan tunanetra dan lain-lain.
Tahun 1909 dimulai pula bagian penjilidan buku. Kemudian tahun 1910 listrik telah masuk kompleks Rumah Buta. Pada saat itu Rumah Buta telah dapat menampung 380 orang tunanetra yang terdiri dari 30 orang tunanetra dari Eropa Dan 350 orang bangsa Indonesia. Kondisi ini dilaporkan pada tahun 1926 dimana pada waktu itu diadakan peringatan Jubileum 25 tahun.
Tanggal 1 Maret 1928 untuk seluruh Nusantara telah dijadikan “Hari Bunga” untuk Tunanetra, dan pada tanggal 1 – 6 April 1929 merupakan “Pekan Tunanetra”. Maksud peringatan ini guna menunjang usaha perkumpulan yang pada waktu itu menampung sekitar 400 orang tunanetra. Para tunanetra sendiri ikut aktif dalam kegiatan pengumpulan dana, antara lain dengan telah dimulainya siaran consert pada pemancar radio PLE (Pemerintah) dan Pameran Ketunanetraan di Gambir Jakarta. Bantuan-bantuan berdatangan antara lain dari Madagaskar, NV Aniem, Pasar Malam Surabaya dan Perusahaan Merbabu. Kemudian di seluruh Nusantara telah dibuka 48 koresponden yang bertugas bukan hanya untuk kepentingan pengumpulan dana melainkan juga untuk kegiatan-kegiatan lain tunanetra, seperti mengadakan penyuluhan, propaganda dan kunjungan keluarga tunanetra. Dalam masa Perang Dunia II seperti keadaan umum masyarakat di Indonesia, Lembaga Rumah Buta Bandung mengalami kesulitan. Pengurusannya langsung dilakukan oleh Pemerintah Bandung Shi. Pengelolaan terhadap para tunanetra benar-benar terlantar, bahkan berkas-berkas, register para karyawan dan anak didik tidak terpelihara dan banyak yang hilang. Penderitaan ini terus berlangsung, bahkan sampai pada penderitaan moril dan pisik para penghuni tunanetra, khususnya pada hari-hari revolusi pisik bertalian dengan adanya tentara asing.
Dalam tahun 1946-1947 keadaan Lembaga Rumah Buta ini agak membaik setelah pengurusannya dilakukan oleh Palang Merah Inggris. Sekolah Rakyat bagi para tunanetra tanggal 25 April 1946 telah dibuka kembali dan diganti namanya menjadi Sekolah Rakyat Istimewa. Kepengurusannya ditangani oleh Yayasan Belanda.
Sementara itu bagian penjilidan makin lama makin berkembang. Dan bagian inilah yang merupakan cikal bakal Balai Penerbitan Braille Indonesia (BPBI) Abiyoso.
Pada tanggal 10 Januari 1952, Tuan Heymans, Ketua Perkumpulan Untuk Memperbaiki Nasib Orang Buta di Indonseia, memberikan instruksi kepada H.A. Malik Uddin untuk memulai membina perpustakaan braille dalam bahasa Indonesia. Hadir saat itu Tuan L.H.C. Horsting, seorang pengarang dan wartawan bangsa Belanda yang mempunyai simpati besar bagi usaha tersebut.
H.A. Malik Uddin segera memulai observasinya di Lembaga Rumah Buta Bandung Jl. Pajajaran 52 Bandung, sambil belajar huruf braille dalam bahasa Indonesia. H.A., Malik Uddin disamping memimpin usaha ini bertugas pula sebagai Commies Redacteur dan Penterjemah membantu Ny. Boreel de Bruine. Buku yang pertama disalin ke dalam tulisan braille, antara lain: Di Bawah Lindungan Kabah karya Prof. Dr. HAMKA dan buku Puteri Ubun-Ubun Emas.
Dalam bulan Agustus 1952 di Lembaga Rumah Buta Bandung terjadi perkembangan baru, yaitu Seksi Buku Pelajaran disatukan dengan Seksi Perpustakaan dan dimulainya pembangunan Kantor Braille SLB/A Lembaga Rumah Buta Bandung. Tanggal 1 September 1952 H.A. Malik Uddin diangkat oleh Departemen PPK menjadi Kepala Kantor Braille. Sejak saat itu Kantor Braille mulai meningkatkan karyanya terutama bagi keperluan para tunanetra yang dididik dalam Lembaga tersebut. Lembaga Rumah Buta ini mempunyai tiga tingkatan pendidikan, yakni tingkat SD, KLPS00000000000022GB (Kursus Lanjutan Pertama Sekolah Guru Bantu) dan tingkat SMP
Keperluan buku-buku pelajaran untuk memenuhi kebutuhan para pelajar tunanetra baik yang berada di lingkungan Lembaga Rumah Buta maupun di luar lembaga semakin meningkat.
Dalam tahun 1954 Lembaga Rumah Buta Bandung menerima kunjungan dari Dr. Helen Keller dan Miss Thomson, selretarisnya. Setelah beliau memperhatikan usaha pembuatan buku-buku braille di kantor Braille, maka beliau menjanjikan akan mengusahakan satu unit mesin cetak braille untuk Lembaga Rumah Buta Bandung. Sesampainya di Amerika Serikat , beliau mengadakan bazar kecil untuk mengumpulkan dana guna pembelian mesin cetak braille untuk dikirimkan ke Indonesia. Didalam suratnya beliau meminta agar mesin cetak tersebut dinamakan “Aan Macie Press”, yaitu nama guru beliau yang pertama. Mesin cetak tersebut sampai di Indonesia pada tahun 1957, namun tertahan beberapa tahun di Jakarta.
Pada tanggal 2 Pebruari 1956 Lembaga Rumah Buta Bandung diserah-terimakan kepada Departemen Kesejahteraan Sosial RI yang dihadiri oleh Menteri Departemen Kesejahteraan Sosial RI, H. Mulyadi Djoyomartono. Dan Lembaga Rumah Buta Bandung dirubah namanya menjadi P3KT (Pusat Pendidikan dan Pengajaran Kegunaan Tunanetra).
Sementara itu pekerjaan Kantor Braille terus mengalami perkembangan, di samping membuat buku-buku pelajaran dan buku-buku perpustakaan, pada awal bulan Januari 1959 mulai menerbitkan majalah “Gema Braille”. Penerbitan majalah “Gema Braille” ini diikuti oleh pemunculan majalah braille lainnya, yaitu majalah “Pelita” yang diterbitkan oleh Balai Penyelidikan dan Penginderaan Sosial Jl. Tugu Kidul 48 Yogyakarta dan majalah “Mercu Suar” yang diterbitkan oleh SGPLB Jl. Taman Sari 62 Bandung.
Atas usaha Bapak Kartono Notodarmodjo, Kepala Bagian Kesejahteraan Anak pada Djawatan Pekerjaan Sosial Departemen Kesejahteraan Sosial RI, maka tanggal 30 November 1961 diterbitkanlah Surat Putusan (SP) Menteri Kesejahteraan Sosial RI Nomor 4-1-41/2330 tentang berdirinya LPPBI, yaitu Lembaga Penerbitan dan Perpustakaan Braille Indonesia.
H.A. Malik Uddin yang sebelumnya merupakan pegawai Departemen PPK pindah ke Departemen Kesejahteraan Sosial dan menjabat sebagai Direktur LPPBI. Tanggal 30 November 1961 merupakan hari yang bersejarah tidak saja sebagai awal berdirinya cikal bakal BPBI “Abiyoso” sekarang, namun juga merupakan hari bersejarah karena diangkatnya 16 orang karyawan Kantor Braille menjadi pegawai negeri Departemen Sosial RI pada tanggal 26 Maret 1962 secara serempak, 9 orang diantaranya tunanetra. Dengan adanya status tersebut, LPPBI yang memiliki Bagian Umum, Bagian Penerbitan, Bagian Perpustakaan Braille, Bagian Percetakan, Bagian Penjilidan dan Bagian Perpustakaan Buku Bicara (Talking Book) mengemban tugas meningkatkan pelayanan kepada Instansi Rehabilitasi dan Pendidikan Tunanetra di Seluruh Indonesia dan bertanggung jawab secara teknis kepada Direktorat Kesejakteraan Anak dan Taruna.
Melalui Surat Nomor 202/KRPT/Sekr/73 tertanggal 15 Juni 1973 LPPBI dipindahkan dari Direktorat Kesejahteraan Anak dan Taruna ke Direktorat Kesejahteraan Rehabilitasi Penderita Cacat, sehingga dengan ketentuan baru ini LPPBI semakin tepat pada bidang kerjanya. Tantangan semakin berat seiring dengan mulai didirikannya Yayasan Sekolah Luar Biasa, Pusat Pendidikan dan Pengajaran Kegunaan Tunanetra (P3KT), demikian pula para tunanetra yang menamatkan pendidikan semakin banyak dan sudah barang tentu kebutuhan akan bahan bacaan braillepun semakin meningkat. Dalam tahun ini pula mulai dirintis pembuatan buku bicara yang diharapkan dapat dikembangkan dikemudian hari. Peralatan yang telah ada pada saat itu terdiri dari :
- 2 (dua) buah Cassette Recorder
- 1 (satu) buah Tape Recorder
- Sejumlah kaset yang memuat rekaman pendek pelajaran Bahasa Inggris, Musik, Lagu-lagu wajib Nasional dan lain-lain.
Dalam tahun 1977 Direktur LPPBI, H.A. Malik Uddin memasuki masa pensiun dan jabatan direktur LPPBI digantikan oleh Soetomo, yang merangkap sebagai Kepala Sub Direktorat Rehabilitasi Cacat Netra Departemen Sosial RI di Jakarta, oleh karena itu sebagai .pelaksana harian kegiatan LPPBI ditunjuk R. Subagia Suradhipraja sampai tahun 1981.
Mengingat jangkauan dan tugas pelayanan yang semakin luas, maka pada tanggal 1 Nopember 1979 Departemen Sosial RI menerbitkan Surat Keputusan Menteri Sosial RI Nomor : 40/HUK/KEP/XI/79 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Balai Penerbitan Braille Indonesia. Dengan adanya Surat Keputusan ini maka LPPBI berubah nama menjadi Balai Penerbitan Braille Indonesia ( BPBI ) dan jabatan direktur diganti menjadi kepala.
Pada tahun 1981 Kepala BPBI digantikan oleh Wahono. Seiring dengan status dan struktur organisasi yang baru itu, sarana dan prasarana kerjapun mengalami perkembangan. BPBI yang semula menempati salah satu bangunan di Wyata Guna Jl. Pajajaran No. 52 Bandung, pada tahun 1985 pindah lokasi karena telah memiliki bangunan sendiri walaupun masih pada alamat yang sama.
Pada tahun 1986 Kepala BPBI digantikan oleh Ny. Cicih Suasih, BA yang menjabat sampai dengan tahun 1993. Pada masa kepemimpinan Ny. Cicih Suasih, BA, pada akhir tahun 1989 BPBI pindah lokasi lagi ke Jl. Kerkhof No. 29 Leuwigajah Cimahi Selatan Kabupaten Bandung dengan bangunan yang jauh lebih luas dan memadai. Selanjutnya pada tahun 1993 Kepala BPBI diganti oleh Drs. H Ade Suherman. Pada masa ini berdasarkan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Bina Rehabilitasi Sosial Departemen Sosial RI Nomor : 06/KEP/BRS/IV/1994 tanggal 1 April 1994 maka nama BPBI ditambah dengan kata “ ABIYOSO “, sehingga lengkapnya menjadi Balai Penerbitan Braille Indonesia ( BPBI ) “ ABIYOSO “.
Pada tanggal 16 Oktober 1999 Pemerintah mengumumkan Susunan Kabinet Persatuan Nasional. Ternyata dalam susunan kabinet ini tidak terdapat Departemen Penerangan dan Departemen Sosial (Kedua Departemen ini ditiadakan).
Sudah barang tentu hal ini mengundang reaksi dan protes keras dari para karyawan kedua Departemen tersebut. Berulang kali para karyawan kedua Departemen ini mengadakan unjuk rasa baik di tingkat daerah maupun di tingkat pusat, menuntut kepastian eksistensi kedua Departemen ini. Puncak unjuk rasa ini diakhiri dengan adanya pemanggilan/pertemuan Presiden oleh DPR pada tanggal 18 Oktober 1999 untuk mengklarifikasi permasalahan tersebut. Seperti kita ketahui, bahwa betapa gencarnya pertanyaan, saran dan kritik yang disampaikan oleh Anggota DPR tentang penghapusan Departemen Sosial dan Departemen Penerangan. Namun Pemerintah dalam hal ini Presiden tetap kukuh pada pendiriannya bahwa kedua Departemen ini ditiadakan dan sebagai gantinya akan dibentuk Badan-badan baru yang akan menangani tugas kedua Departemen ini, yakni Badan Informasi dan Komunikasi Nasional sebagai pengganti Departemen Penerangan dan Badan Kesejahteraan Sosial Nasional sebagai pengganti Departemen Sosial.
Dengan dihapuskannya Departemen Sosial RI, BPBI ABIYOSO pun sebagai Unit Pelaksana Teknis Departemen Sosial otomatis secara hukum kehilangan eksistensinya. Setelah sekian lama menunggu kepastian tentang eksistensi BPBI ini akhirnya pada tanggal 18 Nopember 1999 seiring dengan pemanggilan Presiden oleh DPR, jam 23.00 WIB, BPBI ABIYOSO mendapat penjelasan langsung dari Bapak Drs. Murwanto selaku Sekjen Depsos RI yang menyatakan bahwa BPBI ABIYOSO tetap berada di bawah Pusat dengan induk organisasi yang baru yakni Badan Kesejahteraan Sosial Nasional (BKSN) dan dipertegas melalui Surat Dinas tanggal 20 Desember 1999 No.K/555/SJ/XII-99 perihal Petunjuk penyerahan 3 P dalam rangka Reposisi/Reorganisasi Departemen Sosial, selanjutnya BPBI bertanggung jawab langsung kepada Deputi II Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Sampai saat ini Strukutur Organisasi BPBI masih mengacu kepada SK Menteri Sosial RI No. 40/HUK/KEP/XI/79 tahun 1979 karena Surat Keputusan yang baru sampai kini belum turun.
Pada tahun 2002 kepemimpinan BPBI Abiyoso dari Drs. H Ade Suherman digantikan oleh Drs. Hadi Al Ustad yang menjabat sejak tahun 1993. Dan mulai dengan kepemimpinan Drs. Hadi Al Ustad ini, muncul keputusan baru yang mengatur Struktur Organisasi BPBI yang dulu mengacu kepada SK Menteri Sosial RI No. 40/HUK/KEP/XI/79 tahun 1979 menjadi SK Menteri Sosial RI No. 58/HUK/ 2003 tanggal 23 Juli 2003.
Dalam SK baru tersebut banyak perubahan struktur yang ada di BPBI.
Dan Pada Tahun 2004 Kepemimpinan BPBI Abiyoso digantikan Oleh Dra. Sukaesih Makmur.

KEDUDUKAN, TUGAS, FUNGSI DAN STRUKTUR ORGANISASI BALAI PENERBITAN BRAILLE INDONESIA (BPBIi) “Abiyoso”
(SK Meneteri Sosial RI No. 40/HUK/KEP/XI/79)

I. KEDUDUKAN

Balai Penerbitan Braille Indonesia (BPBI) adalah Unit Pelaksana Teknis di bidangf rehabilitasi dan pelayanan sosial yang berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Direktur Jenderal rehabilitasi dan Pelayanan Sosial (sekarang: Direktur Jemderal Bina Rehabilitasi Sosial – Departemen Sosial). Secara Eselonisasi status BPBI “Abiyoso” adalah eselon III/B

II. TUGAS

Balai Penerbitan Braille Indonesia (BPBI) bertugas melaksanakan usaha-usaha perluasan pemakaian huruf braille, bagi penderita cacat netra, mengembangkan alat dan cara baca tulis braille, serta mengadakan hubungan kerja sama dengan lembaga-lembaga sejenis.
III. FUNGSI

Untuk melaksanakan tugas tersebut di atas BPBI berfungsi:
a. Penerbitan buku-buku, majalah, serta karya tulis lainnya bagi golongan tunanetra anak-anak maupun dewasa.
b. Alih bahasa: buku buku-buku, majalah, brosur serta karya tulis lainnya ke dalam bahasa Indonesia hurif braille.
c. Percetakan dalam huruf braille.
d. Pelaksanaan perpustakaan buku braille dan buku bicara (talking book).
e. Pengembangan peralatan, serta cara baca tulis huruf braille.
f. Pelaksanaan hubungan kerja sama dengan lembaga-lembaga sejenis baik dalam negeri maupun luar negeri sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

IV. STRUKTUR ORGANISASI
1. Kepala
2. Sub bagian Tata Usaha, terdiri dari:
- Urusan Umum
- Urusan Rumah Tangga
- Urusan Keuangan
3. Seksi penerbitan, terdiri dari
- Subsi Penerbitan Majalah
- Subsi Penerbitan Buku Umum
- Subsi Penerbitan Buku Sekolah
4. Seksi Percetakan, terdiri dari
- Subsi Percetakan
- Ubsi Alih Huruf
5. Seksi Pengembangan, terdiri dari:
- Subsi Pengembangan Peralatan
- Subsi Pengembangan Huruf Braille
- Subsi Hubungan Kelembagaan

KEDUDUKAN, TUGAS, FUNGSI DAN STRUKTUR ORGANISASI BALAI PENERBITAN BRAILLE INDONESIA (BPBI) “Abiyoso”
(SK Meneteri Sosial RI No. 58/HUK/2003)
Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi, pelaksanaan kegiatan di BPBI sebelumnya berdasarkan SK Mensos RI No. 40/HUK/KEP/XI/79. Kemudian sejak tanggal 23 Juli 2003, diganti dengan SK Mensos RI No. 58/HUK/2003.
TUPOKSI BPBI “Abiyoso” berdasarkan SK Mensos RI No. 58/HUK/2003 tanggal 23 Juli 2003 tentang Organisasi dan Tata Kerja BPBI “Abiyoso” :
I. Kedudukan
1. BPBI “Abiyoso” adalah Unit Pelayanan Teknis di bidang penerbitan braille di lingkungan Departemen Sosial yang berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Direktur Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial melalui Direktur Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat.
2. BPBI dipimpin oleh seorang Kepala
II . Tugas
BPBI “Abiyoso” mempunyai tugas melaksanakan penyediaan bacaan bagi
cacat netra, pengkajian dan penyiapan standarisasi sarana dan prasarana,
pencetakan dan penerbitan buku braille, pemberian informasi, mengadakan
koordinasi dan kerja sama dengan instansi terkait sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
iIII. Fungsi
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud di atas, BPBI
menyelenggarakan fungsi:
a. Pelaksanaan penyusunan rencana dan program evaluasi dan laporan;
b. Pelaksanaan pencetakan dan penerbitan buku braille;
c. Pelaksanaan mengalih hurufkan buku-buku non braille ke dalam huruf braille;
d. Pelaksanaan perpustakaan buku-buku braille;
e. Pelaksanaan koordinasi dan hubungan kerjasama dengan lembaga-lembaga terkait
di dalam negeri maupun di luar negeri;
f. Pelaksanaan pemberian informasi;
g. Pelaksanaan pengkajian dan penyiapan standarisasi sarana dan prasarana pencetakan dan penerbitan serta mutu buku-buku braille;
h. Pelaksanaan kegiatan Tata Usaha.
IV. Susunan Organisasi
Balai Penerbitan Braille Indonesia terdiri dari :
a. Sub. Bagian Tata Usaha;
b. Seksi Program;
c. Seksi Pencetakan dan Penerbitan;
d. Seksi Sarana dan Prasarana;
e. Seksi Kerjasama Kelembagaan;
f. Kelompok Jabatan Fungsional.
Dalam rangka penyelenggaraan tugasnya, BPBI menggunakan sarana instalasi, terdiri dari : – Instalasi Percetalan/Penerbitan
- Instalasi Audio Rekaman
- Instalasi Perpustakaan
V. VISI DAN MISI
VISI
Buku hasil produksi BPBI “ Abiyoso” dikenal diakui, diyakini kegunaannya untuk menunjang terbangunnya kepribadian, ilmu pengetahuan dan ketrampilan dikalangan penyandang cacat netra guna mendukung terwujudnya peningkatan kesejahteraan social di dalam kehidupan di tengah masyarakat.
MISI.
1. Meningkatkan mutu dan memperluas jangkauan sasaran pelayanan buku Braille.
2. Meningkatkan kualitas serta penampilan hasil percetakan dan penerbitan buku Braille, sehingga memiliki daya tarik serta mendorong minat baca bagi para pembimbing/instruktur, guru, orang tua/wali serta penyandang cacat netra.
3. Meningkatkan kemampuan teknis serta pemberedayaan potensi sastra dikalangan pelaksana alih materi/tulisan dari berbagai sumber ke dalam buku Braille.
4. Memperluas jaringan kerja sama (Networking) baik instansi sektoral maupun lembaga non pemerintah dengan tujuan agar pelaksanaan visi dan misi BPBI “Abiyoso” didukung dan diperlukan oleh semua pihak teruitama mereka yang memiliki tanggung jawab/keterkaitan/keperdulian terhadap penyandang cacat netra.

KEGIATAN TEKNIS OPERASIONAL BPBI “ ABIYOSO”

Dalam hal-hal yang menyangkut bidang teknis operasional pelaksanaan kegiatan memproduksi bahan bacaan di Bpbi “Abiyoso” dapatlah dipaparkan hal-hal sebagai berikut:
A. Sasaran dan Jangkauan Pelayanan
1. Sasaran pelayanan adalah para penyandang cacat netra yang sudah dapat baca tulis braille di seluruh Indonesia.
2. Jangkauan pelayanan meliputi para penyandang cacat netra yang berada/ disantuni melalui:
- Panti Sosial Bina Netra
- SLB/A dan SDLB, baik negeri maupun swasta
- Yaysan/organisasi Sosial
- Perorangan
Pelayanan pengiriman bahan bacaaan braille dikirimken ke seluruh Indonesia bahkan ke luar negeri melalui pos.

B. Syarat dan Cara Memperoleh Pelayanan Bahan Bacaan
1. Para tuna netra yang sudah mampu membaca dan menulis huruf braille
2. Mengisi formulir menjadi pelangganan (bisa melalui surat permohonan)
3. Pasphoto ukuran 4 x 6 sebanyak 3 buah.
4. Mendaftarkan ke Balai Penerbitan Braille Indonesia (BPBI) “Abiyoso” Jl. Kerkhof No. 21 Leuwigajag Tlp (022) – 6674516 , Fax (022) – 6674516 Cimahi Selatan – Kota Cimahi, baik langsung maupun melalui surat atau melalui Kandep/ Dinas Sosial setempat, SLB/A, SDLB dan Panti Sosial Bina Netra yang berada di seluruh Indonesia.
5. Setelah menerima pelayanan berupa bahan bacaan harus mengisi tanda terima buku//majalah/kaset yang selanjutnya dikirim kembali ke BPBI.
6. Baik pendaftaran maupun pelanggan dan pelayanan selanjutnya tidak dipungut biaya (khusus buku tertentu)
C. Jenis-jenis Bahan bacaan Yang diproduksi Oleh BPBI “Abiyoso”
1. Buku
a. Buku Umum, meliputi:
Buku ketrampilan, Pengetahuan Keagamaan, Kalender, Brosur, serta bahan bacaan lain yang mengandung unsur pengetahuan dan pendidikan untuk orang dewasa maupun anak-anak.
b. Buku Sekolah.
Buku-buku yang diterbitkan adalah buku-buku yang digunakan khusus bagi keperluan para tuna netra yang mengikuti program rehabilitasi di Panti-panti Sosial Bina Netra baik negeri maupun swasta, misalnya: Buku-buku Ebtanas untuk Sekolahg Dasar maupun Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Buku-buku sekolah disini sifatnya yang menunjang kurikulum.
2. Majalah
Majalah diproduksi secara rutin setiap 2 bulan satu kali terbitan dengan nama “Gema Braille” baik edisi untuk Anak dan Remaja, maupun edisi Dewasa.
Adapun isi majalah “Gema Braille” baik edisi Anak dan Remaj, maupun edisi Dewasa adalah meliputi:
- Kata Pengantar
- Pengetahuan umum
- Peristiwa-peristiwa actual
- Cerita Pendek
- Pengetahuan Keagamaan (baik Islam maupun Kristen)
- Ruang Ketrampilan
- Puisi
- Sahabat Pena
- Dll
Untuk mempersiapkan penerbitan majalah ini maka dibentuklah Dewan Redaksi, dan untuk membangkitkan gairah menulis, maka setiap artikel atau naskah yang masuk atau dibuat oleh para penulis baik tunanetra maupun orang awas yang diterbitkan dalam majalah “Gema Braille” akan diberi imbalan sekedarnya.
3. Buku Bicara
Disamping menerbitkan bahan bacaan Braille, BPBI “Abiyoso” juga menerbitkan Buku BIcara (Talking Book) berupa kaset sebagai pelengkap.
Pengadaan buku bicara tersebut dilaksanakan sepenuhnya pasa Studio Rekaman BPBI “Abiyoso “ dengan nama “Audio Rekaman BPBI” (ARB).
Peralatan yang dimiliki studio rekaman BPBI ini merupakan peralatan yang cukup modern, seperti : Compact Disc, Equalizer, Komputer berbasis rekaman, dll.
Adapun hasil produksi buku bicara (kaset) ini mulai dinikmati oleh tunanetra sejak tahun 1995. Hasil yang telah diproduksi antara lain: “Orientasi dan Mobilitasi. “Konferensi Asia Afrika”, “Sistim belajar Bahasa Inggris52M “, Budaya Nusantara” Cerita-ceri Rakyat”, dan lain-lain
D. Unsur-unsur Penunjang.
Dalam kegiatan operasional BPBI ditunjang oleh seksi:
1. Perencanaan Program Penyusunan Naskah
Ini merupakan perencanaan semua jenis bahan bacaan yang akan diterbitkan, baik buku umum, buku sekolah maupun majalah dan buku bicara/kaset.
Kegiatan yang dilaksanakan meliputi:
a. Pemilihan buku , naskah dan bahan buku bicara yang akan diterbitkan.
b. Penyusunan naskah untuk majalah “Gema Braille” edisi Anak/ remaja dan edisi Dewasa.
c. Menentukan jumlah copy yang akan dicetak/diterbitkan untuk seluruh Indonesia
d. Bahan-bahan tersebut diserah ke bagian percetakan untuk dialih hurufkan dan digandakan.
2. Percetakan dan Penerbitan
Percetakan dan Pemnerbitan merupakan pelaksanakan pencetakan buku, majalah dan bahan bacaan lain yang akan diterbitkan.
Kegiatan yang dilaksanakan meliputi:
a. Alih huruf
Ini merupakan proses menyalin dari huruf tulisan latin ke dalam huruf tulisan Braille. Peralatan dan bahan yang digunakan dalam proses ini mencakup: Mesin Stero Typer, zink platene, mesin tik Braille/perkins serta komputer Braille.
Mesin stereo typer dan zink plate digunakan untuk menyalin buku-buku dengan menggunakan zink plate sebagai master copy yang akan digandakan. Mesin tik Braille digunakan untuk menyalin buku-buku perpustakaan yang hasilnya tidak dapat digunakan. Komputer Braille digunakan untuk menyalin naskah-naskah melalui program khusus yang hasilnya dapat dicetak pada printer Braille.
b. Pemeriksaan hasil alih huruf
Semua hasil alih huruf dengan mempergunakan peralatan di atas sebelum mengalami proses selanjutnya akan diperiksa dan diperbaiki terlebih dahulu, sehingga hasil pengalihan hurufan tersebut dapat menyerupai naskah/buku yang asli.
c. Pencetakan
Adalah proses penggandaan master copy (zink plate) pada kertas dengan menggunakan mesin cetak.
Kegiatannya meliputi:
1). Mempersiapkan kertas (baik kertas manila atau kertas Braille)
2). Penggandaan dengan menggunakan mesin cetak
3). Penyusunan halaman hasil cetakan
4). Pemriksaan hasil penyusunan halaman.
5). Penjilidan
Bahan bacaan yang sudah dilid tersebut siap dipacking untuk diedarkan ke seluruh Indonesia
3. Perpustakaan Braille
Perpustakaan Braille merupakan salah satu perangkat pelayanan teknis BPBI “Abiyoso” yang kegiatannya meliputi:
1). Menghimpun buku-buku untuk keperluan perpustakaan
2). Mengadakan inventarisasi buku-buku yang ada, khususnya pada buku-buku
yang baru diterbitkan untuk keperluan perpustakaan
3). Melaksanakan pelayanan pinjam meminjam buku
4). Mengadakan evaluasi baik yang menyangkut perbendaharaan buku maupun
pelayanan yang diberikan
4. Sarana dan Prasarana.
5. Administrasi umum
Unsur penunjang lainnya yang memegang peranan sangat [enting adalah penyelenggaraan Administrasi Umum yang kegiatannya meliputi:
a. pelaksanaan kegiatan surat menyurat kedinasan dan kearsipan
b. penyusunan laporan kegiatan
c. pembuatan data baik yang berhubungan dengan pelaksanaan pelayanan maupun untuk kepentingan administrasi.
d. Melaksanakan urusan kepegawaian
e. Melaksanakan administrasi keuangan
f. Melaksanakan penyedian perlengkapan guna mendukung kegiatan teknis dan administrasi serta pemeliharaannya.
6. Keuangan
Untuk menjamin kelangsungan kegiatan teknis operasional BPBI “Anbiyoso” memperoleh alokasi anggaran dari Pemerintyah melalui Departemen Sosial Republik Indonesia, baik berupa Anggaran Rutin maupun Anggaran Pembangunan.
7. Sarana dan Prasarana
a. Gedung Tata Usaha
Merupakan sarana penunjang pelaksanaan tugas dalam bidang administrasi umum, kepegawaian dan pengelolaan urusan rumah tangga.
b. Gesung Sarana dan Prasarana
Merupakan sarana pelaksanaan tugas bagi terlaksananya kegiataan pengkajian, penyiapan dan pengujian standarisasi sarana prasarana, peralatan dan mutu buku Braille serta penyelenggaraan perpustakaan
c. Gedung Pencetakan
Merupakan sarana penunjang bagi terlaksananya kegiatan alih huruf dan pencetakan buku
d. Pengepakan/pendistribusian
Merupakan sarana pelaksanaan tugas dalam bidang pengepakan buku yang siap untuk didistribusikan kepada para tunanetra di seluruh Indonesia
e. Gedung Aula
Merupakan sarara untuk pertemuan yang dapat digunakan untuk pesta maupunh olah raga.
Di dalam gedung inipun terdapat ruang Seksi Program sebagai pelaksanaan tugas dalam melakukan penyusunan rencana dan program, kegiatan Rutin/Pembangunan, penyusunan naskah buku Braille dan buku bicara yang akan diterbitkan, serta evaluasi dan penyusunan laporan.
Selain itupun ada ruang seksi Kerjasama Kelembagaan yang mempunyai tuga melakukan hubungan kerjasama dengan instansi terkait baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
f. Perpustakaan
Merupakan sarana bagi terlaksananya pelayanan pinjam meminjam buku Braille dan buku bicara (talking book).
g. Studio Audio rekaman BPBI “Abiyoso”
Merupakan sarana bagi terlaksananya pembuatan buku bicara (talking book) berupa kaset.

KONDISI MASALAH BAHAN BACAAN BRAILLE, SERTA RENCANA KERJA BPBI “ABIYOSO”

I. Bidang Penyediaan Bahan Bacaan

Penyandang cacat netra yang tersebar di seluruh Indonesia adalah 0,90 % dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 1.884.557 jiwa. (data terakhit yang diperoleh oleh BPBI)
Adapun yang belum bisa baca tulis sebesar 1.828.220 jiwa (97 %). Sedangkan yang menguasai baca tulis diperkirakan 3% atau 56.537 jiwa dengan perincian:
1. Yang telah menerima pelayanan dari BPBI sebanyak 28.023 jiwa :
a. 1.534 jiwa kelayan dalam Panti
b. 26.570 jiwa kelayan di luar Panti
2. Yang belum memperoleh pelayanan adalah sejumlah 28.514 jiwa.
Untuk memperoleh gambaran ideal tentang besarnya kebutuhan minimal bacaan Braille bagi penyandang cacat netra yang bisa baca tulis Braille setiap tahunnya secara rasional dapat diuraikan sebagai berikut:

Nama Lembaga Jml
Lbg Jml Kelayan Buku
Braille Majalah
Braille Kaset Ket
PSBN 19 1.534 5.113 3.682 3.682 Tiap 3 org/thn
SLB-A 67 18.180 60.600 43.632 43.682 butuh 10 exp buku braille
SDLB 131 3.940 13.133 9.456 9.456 Tiap 5 org/thn
Yayasan/
Orsos 95 3.950 13.167 9.480 9.480 butuh 12 exp majalah braille
Perorangan 28.933 28.933 96.443 69.439 69.439 Tiap 5 org/thn
Butuh 12 kas
Jumlah 29.245 56.537 188.456 135.689 135.689
Ket:
 Kebutuhan ideal bahan bacaan braille :
- tiap 3 orang/tahun membutuhkan 10 explr buku braille.
- tiap 5 orang/tahun membutuhkan 12 explr majalah braille
- tiap 5 orang/tahun membutuhkan 12 buah kaset/buku bicara

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa untuk memenuhi kebutuhan bahan bacaan Braille bagi 56.537 orang /tahun diperlukan bahan bacaan braille sebanyak 324.145 buah buku/majalah dan 135.689 buah buku bicara/kaset, sehingga jumlah keseluruhan adalah sebanyak 459.834 buah.
Sedangkan hasil produksi bahan bacaan yang telah diterbitkan BPBI “Abiyoso”

No. HASIL YANG DITERBITKAN 1999/2000 2000 2001 2002 2003 2004
1. MAJALAH 13.292 8.824 8.582 12.900
2. BUKU SEKOLAH 6.395 4.265 3.575 4.550
3. BUKU UMUM 4.340 2.201 6.248 13.175
4. BUKU AGAMA 11.388 14.316 2.562 4.180
5. BUKU CERITA 16 39 89 20
6. KALENDER 1.850 1.850 1.554 1.725
7. BUKU BICARA 505 306 414 500
JUMLAH 37.786 31.801 23.024 37.050

Pada kenyataannya pelayanan BPBI “Abiyoso” selama ini telah mendapat tanggapan positif dari sasaran pelayanan, terbukti dari adanya:
1. Surat-surat Braille yang masuk yangpada umumnya berisikan permintaan buku dan majalah; permintaan informasi tentang kegiatan pelayanan dan hal-hal lain yang berkenaan dengan ketunanetraan; saran dan kritik mengenai pelaksanaan pelayanan serta kiriman naskah karya para tunanetra untuk dimuat pada majalah “Gema Braille”
2. Evaluasi langsung kepada sasaran pelayanan menunjukkan bahwa minat dan kebutuhan akan bahan bacaan Braille sangat besar dan masih belum dapat terpenuhi sebagaimana yang diharapkan.
3. Minat untuk meinjam buku dari perpustakaan cukup besar walaupun koleksi buku-buku yang ada pada saat ini masih sangat terbatas.
Mengingat demikian besarnya kebutuhan akan bacaan Braille, maka direncanakan untuk terus meningkatkan jumlah dan jenis bacaan Braille yang akan diterbitkan dengan memperhatikan keanekaragaman kebutuhan berbagai kelompok penyandang cacat netra.

II. Bidang pembangunan Sarana dan prasara

Guna memenuhi tuntutan akan peningkatan pelayanan serta sejalan dengan terpenuhinya kebutuhan bahan bacaan Braille bagi para tunanetra yang sudah dapat baca tulis Braille, maka dimasa yang akan datang direncanakan bangunan gedung yang kini telah ada perlu dikembangkan, meliputi gedung tata usaha, gedung percetakan, gedung Sarana dan Prasara, Gedung Perpustakaan dan Studio Rekaman Buku BIcara.
Disamping itu untuk mengikuti perkeabangan teknologi di bidang peralatan Braille, maka direncanakan untuk memperbarui atau menambah berbagai peralatan yang digunakan, sehingga BOBI “Abiyoso” lebih mampu memenuhi tuntutan akan peningkatan mutu dan jangkauan pelayanannya.
II. Bidang Kepegawaian
1. Untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pegawai di bidang teknis operasional, maka secara bertahap direncanakan akan mengadakan pelatihan/bimbingan pegawai mengenai berbagai aspek pelaksanaan teknis operasional yang meliputi:
a. penggunaan tulisan Braille dalam berbagai bidang ilmu
b. teknik penulisan artikel dan penggunaan bahasa guna keperluan majalah “Gema Braille”
c. Teknik membaca naskah guna keperluan penerbitan buku bicara, serta yeknik penggunaan berbagai peralatan Braille
2. Pelatihan kedinasan yang bersifat administrasi
3. Mengadakan studi banding ke lembaga-lembaga penerbitan/percetakan sejenis untuk memperoleh masukan-masukan yang bermanfaat bagi upaya peningkatan pelayanan
4. Mengikuti seminar-seminar, lokakarya, diskusi dan lain-lain yang diselenggarakan oleh pemerintah atau swasta baik di dalam maupun di luar negeri.
III. Peran Serta Masyarakat.
Guna mendukung upaya peningkatan pengadaan bacaan Braille, disadari perlu adanya peran serta masyarakat. Untuk itu, direncanakan untuk melaksanakan berbagai upaya yang diarahkan kepada peningkatan peran serta masyarakat yang meliputi:
1. Mengajak anggota masyarakat untuk menjadi tenaga sukarela, sebagai berikut:
a. Pengalih huruf
Dalam hal ini tenaga sukarela sebelumnya akan diberikan bimbingan mengenai tulisan Braille dan cara penggunaan peralatan tulis Braille sehingga pada akhirnya diharapkan dapat menyalinkan naskah/buku ke dalam tulisan Braille
b. Pembaca naskah
Dalam hal ini tenaga sukarela diharapkan untuk dapat membacakan naskah yang akan dirtekam guna keperluan penerbitan buku bicara.
2. Mengajak berbagai kalangan baik perorangan maupun kelompok, untuk menyumbangkan berbagai buku/naskah yang dipandang berguna untuk bacaan para tunanetra.
3. Mengajak para Cendikiawan atau para Profesional untuk turut serta menyumbangkan ide dan kemampuannya untuk menunjang peningkatan kemampuan teknis operasional BPBI “Abiyoso”

Untuk informasi lebih lanjut, silakan mengunjungi website-nya di http://www.abiyoso.depsos.go.id

About these ads